Seorang anak kecil sedang asyik bermain di jok belakang mobil. Wajahnya menghadap arah belakang. Tak peduli sorot lampu dari mobilku yang mengenai wajah mungilnya. Imajinasi telah menguasai segala tindakannya untuk bermain sesuka hati. Sementara sang ibu masih konsentrasi mengendarai mobil di tengah kemacetan sore itu.
Persis dengan diriku beberapa tahun lalu bersama Bagas, bocah usia 3,5 tahun buah hatiku dengan Mas Dhana. Dan kini semua musnah. Bagas tlah pergi, seiring perceraianku.
Semua terjadi begitu saja dan pengadilan memenangkan Mas Dhana untuk mengasuh Bagas. Alasannya simpel, karena aku hidup seorang diri di kota pahlawan ini. Sungguh tak masuk akal. Atau memang hanya akal-akalan ibu mertuaku. Mantan ibu mertua lebih tepatnya. Sementara aku ibunya Bagas.
Mereka bilang,aku bisa menjenguknya tiap minggu. Tapi kenyataannya tidak. Selalu saja ada alasan mereka yang membuatku tidak bisa melihat wajah mungil anakku. Entah sedang dibawa ke rumah saudara, ikut arisan keluarga, atau sekedar jalan-jalan ke mall dengan neneknya.
Satu tahun aku bertahan dengan kondisi terus menerus mencoba menemui Bagas di akhir pekan. Segala upaya telah ku lakukan. Sampai aku tak punya waktu untuk mengurus diri. Pekerjaanku berantakan. Dan lihat tampangku kini, kuyu tak ada gairah. Nasihat kawan dekat hanya sebatas angin lalu. Semua ku lakukan sebagai rutinitas belaka. Cukup. Kini ku relakan Bagas dengan keluarga barunya. Ibu tirinya. Bukan aku,ibu kandungnya.
Kembali ku tatap jalanan malam itu yang penuh gemerlap lampu. Hingga lampu merah di sebuah perempatan jalan protokol. Menyembul kepala anak perempuan berpotongan rambut mirip Dora di sebelahku. Membawa di pundaknya banyak bungkusan kerupuk putih. Hampir-hampir wajah manisnya tertutup.
Diam tanpa kata, ia menatapku. Tatapannya berkata, 'belilah satu bungkus kerupuk ini, Bu'. Aku tak tega untuk memberinya lambaian tangan, ku turunkan kaca samping.
"Berapaan kerupuknya?"
Tangan mungilnya mengacungkan jari telunjuk & jari tengahnya. Ku berikan selembar dua puluh ribuan, "saya ambil tiga saja, kembaliannya buat kamu." Senyumnya merekah seiring diberikan tiga bungkus kerupuk kepadaku.
"Ter.ma.ka.ih", katanya terbata.
***
Aku menuang air panas pada secangkir teh seduh. Sejak pertemuan dengan anak perempuan potongan dora yang menjual kerupuk itu, aku berbisik lirih, "mungkin lebih baik begini."
Bagas tidak denganku, agar dia tak kesepian, dan punya masa depan yang lebih baik. Sementara aku, harus bisa menatap masa depan dan menjalankan kehidupanku. Tanpa Bagas.
Minggu, Januari 08, 2012
Minggu, Desember 18, 2011
satu paket
Dalam keadaan bimbangku denganmu.
Kata-kataku habis dalam sekejap.
Menjadi tak konvergen seluruh pikiranku.
Partikel-partikelnya berjejalan dalam tempurung kepalaku.
(masih) bolehkah aku menyapamu?
Kita mulai renggang.
Sejak malam itu.
Saat ku torehkan semua pikiranku dalam coretan tinta bolpen di kedua telapak tanganku.
Tak berbentuk.
Tak bermakna.
Dan ketika aku menemukan secuil rindu padamu, aku sadar.
Sepenuhnya mengerti.
Semua salahku.
Selalu.
Sehingga kau pun menghindar.
Seakan aku genangan air hujan di pinggir jalan.
Kapan kita bagai kucing & anjing?
Kapan kita juga berperan sebagai romeo & juliet?
Atau beralih profesi menjadi sahabat karib?
Komplit satu paket.
Berantem.
Baikan.
Romantis.
Kata-kataku habis dalam sekejap.
Menjadi tak konvergen seluruh pikiranku.
Partikel-partikelnya berjejalan dalam tempurung kepalaku.
(masih) bolehkah aku menyapamu?
Kita mulai renggang.
Sejak malam itu.
Saat ku torehkan semua pikiranku dalam coretan tinta bolpen di kedua telapak tanganku.
Tak berbentuk.
Tak bermakna.
Dan ketika aku menemukan secuil rindu padamu, aku sadar.
Sepenuhnya mengerti.
Semua salahku.
Selalu.
Sehingga kau pun menghindar.
Seakan aku genangan air hujan di pinggir jalan.
Kapan kita bagai kucing & anjing?
Kapan kita juga berperan sebagai romeo & juliet?
Atau beralih profesi menjadi sahabat karib?
Komplit satu paket.
Berantem.
Baikan.
Romantis.
Sabtu, Desember 10, 2011
** Berkilaulah **
Dalamnya hati siapa yang tahu.
Bahagiakah atau terbelenggu.
Lupakan duka satu per satu.
Percayakan diri dalam waktu, dan slalu,
Berkilaulah tersenyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah bersyukurlah, semua pasti kan indah.
Cobaan slalu datang dan pergi.
Memberi ketegaran di diri.
Jangan ternoda hati yang suci.
Berdoalah dan tanpa berhenti, nanti,
Berkilaulah dan senyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah jangan gundah, hidup kan smakin indah.
Berkilaulah dan senyumlah, sambut hidup yang indah.
Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.
Hidup kan smakin indah..
Hidup kan smakin indah..
Hidup kan smakin indah..
Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.
;)
Bahagiakah atau terbelenggu.
Lupakan duka satu per satu.
Percayakan diri dalam waktu, dan slalu,
Berkilaulah tersenyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah bersyukurlah, semua pasti kan indah.
Cobaan slalu datang dan pergi.
Memberi ketegaran di diri.
Jangan ternoda hati yang suci.
Berdoalah dan tanpa berhenti, nanti,
Berkilaulah dan senyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah jangan gundah, hidup kan smakin indah.
Berkilaulah dan senyumlah, sambut hidup yang indah.
Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.
Hidup kan smakin indah..
Hidup kan smakin indah..
Hidup kan smakin indah..
Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.
;)
Jumat, November 11, 2011
sepuluh november
Jika waktu bisa berputar kembali ke masa silam untuk tanggal 10 November, beruntungnya aku. Merasakan hal indah bersamamu waktu itu, juga ingin ku perbaiki hal buruk yang terjadi antara kita.
2007.
Aku menantimu menyatakannya. Ku kirim puisi cinta, perhatian, dan hampir sebagian waktuku untuk kamu. Waktu itu, aku ingin kamu takluk dan kita punya sebuah hubungan.
Untuk pertama kali kamu ke rumah, mengajakku pergi, dan kamu menyatakannya. Yes!
Lalu mendadak ada kupu-kupu muncul dalam perutku. Aku menjadi ragu. Ku abaikan pernyataan dan pertanyaanmu. Hingga tiga bulan kemudian, kita jadian.
2008.
Berjalan setahun aku dan kamu, dengan ritme putus nyambungnya. Sebuah ruangan lantai lima perpustakaan kampus, lengkap dengan koleksi buku, meja, kursi dan rak menjadi saksi bisu.
Setangkai mawar merah muda dengan bunga-bunga kecil yang terikat menjadi satu disertai pita warna merah. Kamu berikan padaku. Hati berbunga-bunga. Senyumku tak mau lepas dari wajahku. Takut akan layu, aku menyimpan gambarnya melalui kamera. Juga di hatiku.
2009.
Sebelum November melewati hari kesepuluhnya, aku dan kamu sudah tak bersama. Hampa. Kita benar-benar tak berada di jalan yang sama. Aku masih bisa melihatmu, dan kamu masih berusaha mengejarku.
Tapi takdir mengharuskan kita berbeda. Aku dengan keegoisanku bersama dengan orang lain. Ya aku yang salah. Seluruh dunia seperti menuduhku. Semua lagu sedih seperti mengejekku.
2010.
Secara tak sengaja kita bertemu kembali, mencoba untuk memulai dari awal. Berteman. Lalu berbagi tawa, tangia, dan masa lampau.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan waktu yng pernah kita lalui. Tetapi kita masih pada jalam sejajar yang tak satu jalan. Membiarkan momen-momen indah terlewati begitu saja, tanpa ikatan. Hingga suatu saat aku membiarkanmu menyentuh dan menggenggam tangaku. Erat.
2011.
Sepuluh November baru saja usai. Pengembaraanku terhenti setelah kamu menyatakan apa yang aku harap. Tak ada bunga mawar merah muda, tak ada momen indah tanpa ikatan, terpisah jarak dan waktu, tetapi aku merasakan kupu-kupu hadir dalam perutku, dan kita mash memliki rasa yang sama.
Selamat tanggal Sepuluh November, wahai kamu :)
2007.
Aku menantimu menyatakannya. Ku kirim puisi cinta, perhatian, dan hampir sebagian waktuku untuk kamu. Waktu itu, aku ingin kamu takluk dan kita punya sebuah hubungan.
Untuk pertama kali kamu ke rumah, mengajakku pergi, dan kamu menyatakannya. Yes!
Lalu mendadak ada kupu-kupu muncul dalam perutku. Aku menjadi ragu. Ku abaikan pernyataan dan pertanyaanmu. Hingga tiga bulan kemudian, kita jadian.
2008.
Berjalan setahun aku dan kamu, dengan ritme putus nyambungnya. Sebuah ruangan lantai lima perpustakaan kampus, lengkap dengan koleksi buku, meja, kursi dan rak menjadi saksi bisu.
Setangkai mawar merah muda dengan bunga-bunga kecil yang terikat menjadi satu disertai pita warna merah. Kamu berikan padaku. Hati berbunga-bunga. Senyumku tak mau lepas dari wajahku. Takut akan layu, aku menyimpan gambarnya melalui kamera. Juga di hatiku.
2009.
Sebelum November melewati hari kesepuluhnya, aku dan kamu sudah tak bersama. Hampa. Kita benar-benar tak berada di jalan yang sama. Aku masih bisa melihatmu, dan kamu masih berusaha mengejarku.
Tapi takdir mengharuskan kita berbeda. Aku dengan keegoisanku bersama dengan orang lain. Ya aku yang salah. Seluruh dunia seperti menuduhku. Semua lagu sedih seperti mengejekku.
2010.
Secara tak sengaja kita bertemu kembali, mencoba untuk memulai dari awal. Berteman. Lalu berbagi tawa, tangia, dan masa lampau.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan waktu yng pernah kita lalui. Tetapi kita masih pada jalam sejajar yang tak satu jalan. Membiarkan momen-momen indah terlewati begitu saja, tanpa ikatan. Hingga suatu saat aku membiarkanmu menyentuh dan menggenggam tangaku. Erat.
2011.
Sepuluh November baru saja usai. Pengembaraanku terhenti setelah kamu menyatakan apa yang aku harap. Tak ada bunga mawar merah muda, tak ada momen indah tanpa ikatan, terpisah jarak dan waktu, tetapi aku merasakan kupu-kupu hadir dalam perutku, dan kita mash memliki rasa yang sama.
Selamat tanggal Sepuluh November, wahai kamu :)
Sabtu, Oktober 29, 2011
Sebuah sorE
Hampir semua orang suka hujan. Termasuk kamu, dan aku. Seperti sore itu, di pojok lorong kantor.
Sebuah jendela kaca menjadi latarnya. Semua menjadi tenang di sana. Tak ada alunan mesin printer, ketikan keyboard dering telepon, derap langkah kaki bersepatu, pun suara orang-orang berdiskusi. Sebuah gambaran sore yang kamu nantikan.
Aku tahu kamu sedang di sana. Seperti sebelumnya. Dan aku menyengaja pergi dari ruang kerjaku untuk menjumpaimu. Memberimu secangkir teh hangat yang masih ada kepulan asap di atasnya. Mengobrol santai, tawa-tawa renyah, sambil berdiri menatap jalanan yang basah.
Sudah beberapa kali kita seperti ini di akhir bulan. Dari yang hanya sekedar bertegur sapa, menghidangkan teh hangat dengan dua sendok gula, sampai akhirnya aku memberanikan diri menemanimu barang semenit hingga kamu habiskan teh buatanku. Dan kita pun bersentuhan.
Berdesir hatiku saat kau menepuk pundakku untuk yang pertama kalinya. Namun sore ini, kamu tiba-tiba menggelitik. Lalu tak tahan aku menerimanya, hingga hampir aku terjungkal ke belakang. Dan kamu dengan sigap menarik pinggangku, membawaku menuju dekapanmu yang hangat.
Tatapanmu menyihirku menjadi seorang cinderella sebelum pukul dua belas malam. Membinasakan jati diriku yang sebenarnya, membawaku menaiki level yang sama denganmu.
Kamu dan aku saling bertatapan, menyentuh ujung hidung, terbuai dengan alunan rintik hujan di balik jendela. Tak ada keraguan bagimu untuk mengecup lembut permukaan bibirku. Semakin dalam kamu memandangku, semakin manis kecupanmu. Tak kuasa, ku tutup mataku, membiarkan lengan kananmu melingkar lebih erat di pinggangku sementara tangan kirimu masih membawa secangkir teh yang sudah mendingin.
Aku menghentikan lumatan bibirmu, membuka mataku, mengembalikan posisiku. Membiarkanmu meneguk habis teh, lalu pergi membawa cangkir kosong itu. Juga hatiku yang kini penuh gejolak.
Tak ada yang perlu disalahkan. Aku hanya sebuah waktu penghibur penatmu. Datang di saat kamu butuh kawan. Berbagi semburat jingga, rintik hujan, jalanan basah, juga kepulan teh hangat. Itu saja. Aku dan kamu tak akan pernah bisa menjadi kita. Selamanya.
Sebuah jendela kaca menjadi latarnya. Semua menjadi tenang di sana. Tak ada alunan mesin printer, ketikan keyboard dering telepon, derap langkah kaki bersepatu, pun suara orang-orang berdiskusi. Sebuah gambaran sore yang kamu nantikan.
Aku tahu kamu sedang di sana. Seperti sebelumnya. Dan aku menyengaja pergi dari ruang kerjaku untuk menjumpaimu. Memberimu secangkir teh hangat yang masih ada kepulan asap di atasnya. Mengobrol santai, tawa-tawa renyah, sambil berdiri menatap jalanan yang basah.
Sudah beberapa kali kita seperti ini di akhir bulan. Dari yang hanya sekedar bertegur sapa, menghidangkan teh hangat dengan dua sendok gula, sampai akhirnya aku memberanikan diri menemanimu barang semenit hingga kamu habiskan teh buatanku. Dan kita pun bersentuhan.
Berdesir hatiku saat kau menepuk pundakku untuk yang pertama kalinya. Namun sore ini, kamu tiba-tiba menggelitik. Lalu tak tahan aku menerimanya, hingga hampir aku terjungkal ke belakang. Dan kamu dengan sigap menarik pinggangku, membawaku menuju dekapanmu yang hangat.
Tatapanmu menyihirku menjadi seorang cinderella sebelum pukul dua belas malam. Membinasakan jati diriku yang sebenarnya, membawaku menaiki level yang sama denganmu.
Kamu dan aku saling bertatapan, menyentuh ujung hidung, terbuai dengan alunan rintik hujan di balik jendela. Tak ada keraguan bagimu untuk mengecup lembut permukaan bibirku. Semakin dalam kamu memandangku, semakin manis kecupanmu. Tak kuasa, ku tutup mataku, membiarkan lengan kananmu melingkar lebih erat di pinggangku sementara tangan kirimu masih membawa secangkir teh yang sudah mendingin.
Aku menghentikan lumatan bibirmu, membuka mataku, mengembalikan posisiku. Membiarkanmu meneguk habis teh, lalu pergi membawa cangkir kosong itu. Juga hatiku yang kini penuh gejolak.
Tak ada yang perlu disalahkan. Aku hanya sebuah waktu penghibur penatmu. Datang di saat kamu butuh kawan. Berbagi semburat jingga, rintik hujan, jalanan basah, juga kepulan teh hangat. Itu saja. Aku dan kamu tak akan pernah bisa menjadi kita. Selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

