Tampilkan postingan dengan label cerpenQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpenQ. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 27, 2013

- KINI -

Melihat film “Perahu Kertas” di malam Minggu seperti ini bagi sebagian orang mungkin hanya sebagai hiburan. Tetapi tidak bagiku. Segalanya seperti nyata. Aku menjiwai, meresapi beberapa adegan dan pilihan katanya. Ini mungkin terkesan absurd.

Disinilah aku. Menatap sebuah layar 21 inch dalam kamar berukuran 3x4 meter. Seorang diri. Dan kamu disana. Entah bersama siapa. Tak ada kabar.

Mungkin ada yang salah dengan sinyal operatorku. Cepat-cepat aku me-nonaktifkan telepon genggamku, dan sedetik kemudian mencoba mengkoneksikan kembali.

It’s connecting…

We are connected, I think. Or just I am, not us.

Kalimat terakhir pada percakapan kita dalam sebuah aplikasi chat itu berasal dari aku, dua jam yang lalu. Sebentar-sebentar aku melirik posisimu yang mungkin sedang typing, atau sesekali memastikan bahwa kita tersambung. Dan sekali lagi “perahu kertas” menghanyutkanku menjadi sosok Kugy.

Kabar terakhir darimu yang ku terima adalah hasil bidikan kamera temanmu yang menerjemahkan betapa bahagianya dirimu dalam suasana pegunungan yang hijau dan aliran air terjun di kakimu.

Indah. Tetapi tak seindah isi otakku yang bergumam sendiri, ‘siapa yang mengambil gambarmu tadi? Seorang teman wanitamu?’

…Bila kau dengan yang lain sesungguhnya ku tak rela…

Aku menyadari sepenuhnya, bahwa hidup membujang di sebuah kota megapolitan, agak nyeleneh bila hanya menghabiskan malam Minggu sendirian. Dan aku memaklumi bila memang kamu menghibur diri dari segudang kerja lembur di weekdays dengan bersama teman-temanmu, pria ataupun wanita.

Tetapi sungguh aku tetap tidak bisa menghindari bayang-bayang dirimu bersamanya yang pernah singgah di hidupmu. Sekalipun kau tidak melakukannya atau mungkin tidak berterus terang padaku tentang itu.

Satu kota, satu apartement, satu hobi, dan satu atau dua kesamaan lainnya.

…Dan tak seindah cinta yang lalu, yang jalan dan jalin tanpa restu
Ku akhiri namun tak berakhir, ku hindari, hati tak ingin terpisah…

Status ter-update kini sebuah artikel online, seperti sengaja dikirimkan oleh Tuhan untukku.

“Sudah yakin mau menikah? Pastikan Anda berdua bisa saling berbicara terbuka tentang apa saja.”

Aku meluncur ke situs itu, membaca, dan mencermati setiap kalimat tips di dalamnya. Mencerminkan pada diriku. Malu. Hampir sebagiannya mengarahkanku pada kesimpulan “aku belum yakin untuk menikah”.

Waktu berlalu. Perahu kertas sudah lama hanyut dalam imajinasiku. Dan setan kecil di sebelah mengarahkan jari-jari pada layar smartphoneku untuk menuju timeline pribadimu. Tetapi nihil. Gemerlap megapolitan (atau teman wanitamu) telah menghapus diriku dari pikiranmu.

…Mungkin salah diri ini memikirkanmu, Aku kini telah berdua…

Aku terlelap dalam kehampaan tentangmu.

Minggu, Februari 24, 2013

Abu-abu

Aku senang abu-abu. Bukan putih, pun hitam. Sebab putih terlalu terang, dan hitam terlalu gelap.

Seperti titik-titik air yang menggantung pada langit. Yang dalam detik berikutnya terjun bebas menemui bumi. Sehingga aroma khas pertemuan air dan tanah menjadi sebuah euforia. Melambungkan romantisme. Menerbangkan butiran-butiran rindu. Ah, rindu yang mencandu.

Apa kabar dirimu? Samakah warna langitmu di sana? Mungkinkah euforia itu juga hadir di tempatmu? Sebuah romantisme yang menghanyutkan pikiranmu tentangku? Sudahkah uap rindu yang ku terbangkan sampai pada titik embun di atas tanaman sekitarmu? Atau mungkin titik embun yang hadir pada kaca mobilmu? Sebab aku tahu, tak ada lagi embun murni di kotamu.

Kebanyakan orang menganggap abu-abu itu tabu. Tak berpihak. Tak konsisten.
Bagiku tidak. Ia hidup. Seperti yin dan yang. Ia nyata. Seperti manusia pada hakekatnya. Seperti kamu. Yang sesekali "putih", sesekali "hitam". Sering tak ku mengerti. Tetapi sekali lagi, itulah hidup.

Hidup sejatinya penantian. Menanti untuk menemui kembali sang Khalik. Yang dicinta. Hingga melakukan apapun untuk yang dicinta. Termasuk kamu. Yang masih tetap ku nanti di ujung cerita kita. Telah ku lakukan apapun untuk menantimu menjadi sosok yang melabuhkan hatinya padaku. Bukan yang telah dipilih olehku. Apa mungkin?

Perjalanan hati itu bukannya tanpa resiko. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Tetapi aku telah menetapkan hatiku untuk ambil resiko. Bukankah hidup selalu ada resiko sekecil apapun? Dan kamu adalah resiko hidupku yang terbesar. Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Walaupun, sekali lagi aku berkata, kamu abu-abu.

Sabtu, April 28, 2012

Empat Belas Maretku, Dua Puluh Delapan Jam Sehari.

Sejatinya hidup adalah penantian sebuah antrian panjang, dimana terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dua belas jam yang lalu, aku tergopoh-gopoh bangun dari tempat tidur. Dengan segala daya upaya aku mencoba melewati kantuk, menembus air dingin kamar mandi, melewati hawa pagi buta, menuju bandara. Aku masih di Indonesia.

Saat ini pukul 17.00 wib. Sebuah pesawat besar dua tingkat membawaku pergi. Jauh. Melewati selat Sunda, melintasi pulau Sumatra. Sebuah perjalanan ke barat. Menjauhi tanah kelahiran, mendekati tanah yang suci.

Pukul 18.00 wib. Makananku sudah tersaji di atas meja lipat. Spageti lauk ikan, puding ice cream, roti dengan mentega & mayonaise, dan salad sayur yang bagiku lebih pantas disebut acar sayuran. Baru saja aku berucap dalam hati, aku ingin mie dengan ikan. Dan semenit kemudian, pramusaji menghidangkannya padaku. Subhanallah.

Dari tadi yang dapat tertangkap oleh kedua mataku hanyalah gumpalan awan & sinar matahari senja pukul tiga sore. Bukan pukul tujuh malam seperti yang diinformasikan oleh jam tanganku saat ini. Di samping tempat dudukku sudah terdapat satu kantong plastik berlogo Carefour berisi puding ice cream, dua buah roti milikku dan ibu serta pisau & garpu plastik sisa makan malam ( sore waktu setempat). Biasa, Indonesia.
Hei sekarang bukan lagi di Indonesia. Mungkin India, atau Pakistan. Dan aku mulai memamah biak puding ice cream ku.

Tepat pukul 12 malam wib aku terkejut. Bukan karena ada cinderlla yang kembali berubah menjadi upik abu, tapi ini saatnya makan malam (lagi). Ya, makan malam waktu arab. Menunya juga gak jauh beda dengan makan malam wib sebelumnya. Dan segera makananku kembali masuk kantong plastik sebelum pramugari melewatiku.

Empat belas maretku sudah tidak lagi 24 jam,tapi menjadi 28 jam. Begitupun makananku, menjadi 4x dalam sehari. Berkah perjalanan menuju ke barat. Alhamdulillah.

Minggu, Januari 08, 2012

ikhlasku

Seorang anak kecil sedang asyik bermain di jok belakang mobil. Wajahnya menghadap arah belakang. Tak peduli sorot lampu dari mobilku yang mengenai wajah mungilnya. Imajinasi telah menguasai segala tindakannya untuk bermain sesuka hati. Sementara sang ibu masih konsentrasi mengendarai mobil di tengah kemacetan sore itu.

Persis dengan diriku beberapa tahun lalu bersama Bagas, bocah usia 3,5 tahun buah hatiku dengan Mas Dhana. Dan kini semua musnah. Bagas tlah pergi, seiring perceraianku.

Semua terjadi begitu saja dan pengadilan memenangkan Mas Dhana untuk mengasuh Bagas. Alasannya simpel, karena aku hidup seorang diri di kota pahlawan ini. Sungguh tak masuk akal. Atau memang hanya akal-akalan ibu mertuaku. Mantan ibu mertua lebih tepatnya. Sementara aku ibunya Bagas.

Mereka bilang,aku bisa menjenguknya tiap minggu. Tapi kenyataannya tidak. Selalu saja ada alasan mereka yang membuatku tidak bisa melihat wajah mungil anakku. Entah sedang dibawa ke rumah saudara, ikut arisan keluarga, atau sekedar jalan-jalan ke mall dengan neneknya.

Satu tahun aku bertahan dengan kondisi terus menerus mencoba menemui Bagas di akhir pekan. Segala upaya telah ku lakukan. Sampai aku tak punya waktu untuk mengurus diri. Pekerjaanku berantakan. Dan lihat tampangku kini, kuyu tak ada gairah. Nasihat kawan dekat hanya sebatas angin lalu. Semua ku lakukan sebagai rutinitas belaka. Cukup. Kini ku relakan Bagas dengan keluarga barunya. Ibu tirinya. Bukan aku,ibu kandungnya.

Kembali ku tatap jalanan malam itu yang penuh gemerlap lampu. Hingga lampu merah di sebuah perempatan jalan protokol. Menyembul kepala anak perempuan berpotongan rambut mirip Dora di sebelahku. Membawa di pundaknya banyak bungkusan kerupuk putih. Hampir-hampir wajah manisnya tertutup.
Diam tanpa kata, ia menatapku. Tatapannya berkata, 'belilah satu bungkus kerupuk ini, Bu'. Aku tak tega untuk memberinya lambaian tangan, ku turunkan kaca samping.

"Berapaan kerupuknya?"

Tangan mungilnya mengacungkan jari telunjuk & jari tengahnya. Ku berikan selembar dua puluh ribuan, "saya ambil tiga saja, kembaliannya buat kamu." Senyumnya merekah seiring diberikan tiga bungkus kerupuk kepadaku.

"Ter.ma.ka.ih", katanya terbata.
***
Aku menuang air panas pada secangkir teh seduh. Sejak pertemuan dengan anak perempuan potongan dora yang menjual kerupuk itu, aku berbisik lirih, "mungkin lebih baik begini."

Bagas tidak denganku, agar dia tak kesepian, dan punya masa depan yang lebih baik. Sementara aku, harus bisa menatap masa depan dan menjalankan kehidupanku. Tanpa Bagas.

Jumat, November 11, 2011

sepuluh november

Jika waktu bisa berputar kembali ke masa silam untuk tanggal 10 November, beruntungnya aku. Merasakan hal indah bersamamu waktu itu, juga ingin ku perbaiki hal buruk yang terjadi antara kita.

2007.
Aku menantimu menyatakannya. Ku kirim puisi cinta, perhatian, dan hampir sebagian waktuku untuk kamu. Waktu itu, aku ingin kamu takluk dan kita punya sebuah hubungan.
Untuk pertama kali kamu ke rumah, mengajakku pergi, dan kamu menyatakannya. Yes!
Lalu mendadak ada kupu-kupu muncul dalam perutku. Aku menjadi ragu. Ku abaikan pernyataan dan pertanyaanmu. Hingga tiga bulan kemudian, kita jadian.

2008.
Berjalan setahun aku dan kamu, dengan ritme putus nyambungnya. Sebuah ruangan lantai lima perpustakaan kampus, lengkap dengan koleksi buku, meja, kursi dan rak menjadi saksi bisu.
Setangkai mawar merah muda dengan bunga-bunga kecil yang terikat menjadi satu disertai pita warna merah. Kamu berikan padaku. Hati berbunga-bunga. Senyumku tak mau lepas dari wajahku. Takut akan layu, aku menyimpan gambarnya melalui kamera. Juga di hatiku.

2009.
Sebelum November melewati hari kesepuluhnya, aku dan kamu sudah tak bersama. Hampa. Kita benar-benar tak berada di jalan yang sama. Aku masih bisa melihatmu, dan kamu masih berusaha mengejarku.
Tapi takdir mengharuskan kita berbeda. Aku dengan keegoisanku bersama dengan orang lain. Ya aku yang salah. Seluruh dunia seperti menuduhku. Semua lagu sedih seperti mengejekku.

2010.
Secara tak sengaja kita bertemu kembali, mencoba untuk memulai dari awal. Berteman. Lalu berbagi tawa, tangia, dan masa lampau.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan waktu yng pernah kita lalui. Tetapi kita masih pada jalam sejajar yang tak satu jalan. Membiarkan momen-momen indah terlewati begitu saja, tanpa ikatan. Hingga suatu saat aku membiarkanmu menyentuh dan menggenggam tangaku. Erat.

2011.
Sepuluh November baru saja usai. Pengembaraanku terhenti setelah kamu menyatakan apa yang aku harap. Tak ada bunga mawar merah muda, tak ada momen indah tanpa ikatan, terpisah jarak dan waktu, tetapi aku merasakan kupu-kupu hadir dalam perutku, dan kita mash memliki rasa yang sama.

Selamat tanggal Sepuluh November, wahai kamu :)

Sabtu, Oktober 29, 2011

Sebuah sorE

Hampir semua orang suka hujan. Termasuk kamu, dan aku. Seperti sore itu, di pojok lorong kantor.

Sebuah jendela kaca menjadi latarnya. Semua menjadi tenang di sana. Tak ada alunan mesin printer, ketikan keyboard dering telepon, derap langkah kaki bersepatu, pun suara orang-orang berdiskusi. Sebuah gambaran sore yang kamu nantikan.

Aku tahu kamu sedang di sana. Seperti sebelumnya. Dan aku menyengaja pergi dari ruang kerjaku untuk menjumpaimu. Memberimu secangkir teh hangat yang masih ada kepulan asap di atasnya. Mengobrol santai, tawa-tawa renyah, sambil berdiri menatap jalanan yang basah.

Sudah beberapa kali kita seperti ini di akhir bulan. Dari yang hanya sekedar bertegur sapa, menghidangkan teh hangat dengan dua sendok gula, sampai akhirnya aku memberanikan diri menemanimu barang semenit hingga kamu habiskan teh buatanku. Dan kita pun bersentuhan.

Berdesir hatiku saat kau menepuk pundakku untuk yang pertama kalinya. Namun sore ini, kamu tiba-tiba menggelitik. Lalu tak tahan aku menerimanya, hingga hampir aku terjungkal ke belakang. Dan kamu dengan sigap menarik pinggangku, membawaku menuju dekapanmu yang hangat.

Tatapanmu menyihirku menjadi seorang cinderella sebelum pukul dua belas malam. Membinasakan jati diriku yang sebenarnya, membawaku menaiki level yang sama denganmu.

Kamu dan aku saling bertatapan, menyentuh ujung hidung, terbuai dengan alunan rintik hujan di balik jendela. Tak ada keraguan bagimu untuk mengecup lembut permukaan bibirku. Semakin dalam kamu memandangku, semakin manis kecupanmu. Tak kuasa, ku tutup mataku, membiarkan lengan kananmu melingkar lebih erat di pinggangku sementara tangan kirimu masih membawa secangkir teh yang sudah mendingin.

Aku menghentikan lumatan bibirmu, membuka mataku, mengembalikan posisiku. Membiarkanmu meneguk habis teh, lalu pergi membawa cangkir kosong itu. Juga hatiku yang kini penuh gejolak.

Tak ada yang perlu disalahkan. Aku hanya sebuah waktu penghibur penatmu. Datang di saat kamu butuh kawan. Berbagi semburat jingga, rintik hujan, jalanan basah, juga kepulan teh hangat. Itu saja. Aku dan kamu tak akan pernah bisa menjadi kita. Selamanya.

Minggu, Februari 21, 2010

*??!?*

Sudah 4 hari Firly berkutat dengan kata-kata dari Ahmad melalui sms. Semua karena telepon panjang suatu malam. Sebuah malam minggu. Ngobrol, bercanda, sempat putus koneksi karena lowbatt, lalu nyambung lagi, ngobrol lagi, putus lagi, bercanda lagi, sampai akhirnya selesai karena sudah tak ada lagi bahan obrolan antara mereka.

Kapan terakhir kali aku dapat telepon dari seorang cowok sepanjang itu?? batin Firly.

Malam minggu berikutnya, Firly berharap Ahmad meneleponnya kembali. Dan sudah dipersiapkannya baterai HPnya yang full. Tapi nihil. Tak ada nama Ahmad yang muncul di layarnya.

Kenapa aku rindu telepon panjang itu?? batin Firly.

Empat hari yang lalu, tiba-tiba Ahmad menanyakan janji nonton bersama pada Firly. Setelah beberapa kali tawar menawar melalui sms, akhirnya mereka sepakat bertemu di akhir pekan.

Berdua?? Aku rasa aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama 4 tahun lalu saat aku untuk pertama kalinya jalan berdua saja dengan seorang lelaki. dan aku berbohong pada kedua orang tuaku. cukup itu saja pikir Firly.

Firly mencoba meloby beberapa teman mereka untuk bergabung . Dan akhirnya 3 pasang laki dan wanita sepakat bertemu di bioskop Sabtu depan.

Tak ada yang istimewa dari acara nonton bersama itu. Tak pula hati Firly terhadap Ahmad. Tapi tiba-tiba saja Ahmad mengajak Firly makan di restoran bernuansa cozy setelah mereka berenam berpisah. Hanya berdua.

Ada apa ini?? Mengapa harus restoran ini?? Ah jadi ingat 4 tahun lalu. Peristiwa pembohongan besar-besaran terhadap orang tuaku. Berlebihankah aku menyebutnya seperti itu?? tanya Firly dalam hati.

Mereka duduk berhadapan. Dan Firly mulai merasa tak jenak ketika tatapan mereka bertemu. Diambilnya HP, dan mulai menyibukkan diri dengan pura-pura melihat inbox. Sementara Ahmad membuka pembicaraan tentang skripsinya yang baru saja berakhir. Tak ada obrolan yang spesial hingga makanan masing-masing dihidangkan.

Kenapa ada rindu yang tiba-tiba merembes dalam ruang hatiku ketika melihat Ahmad di hadapanku?? Rindu pada sosok lelaki yang menjadi peran utama peristiwa pembohonganku 4 tahun lalu. Baunya, Senyumnya, tatapan matanya. Damn!

Di tengah pembicaraan, Firly mencoba menanyakan maksud ajakan makan sore itu pada Ahmad. Tapi yang keluar dari mulut Ahmad hanyalah lawakan garing. Tak urung, Firly pun menimpali. Dan sampai selesai makan pun, tak terjadi apa yang Firly khawatirkan.

Ahmad itu mantan kekasih sahabatku. Tak mungkin aku melukai perasaan sahabatku sendiri yang masi mencintai Ahmad mati-matian.

Sampai di rumah, Firly menerima sms dari Ahmad. 'Thx 4 today '
Dan Firly tersenyum lembut membacanya. *??!?*

Minggu, Januari 31, 2010

Hari ‘kerja’ keduaku.

Cetok!!
Suara mesin check clock terus berdentang di atas meja kerjaku.
Tiap menit berganti.
Dan aku hanya memandangi layar monitor.
Bekerja berpura-pura.
Sesekali melihat situasi yang ada di sekitar.
Lalu kembali lagi menekan keyboard membentuk kata, kalimat lalu satu paragraf penuh.

Mencoba memahami catatan yang tergelar dengan indahnya di depanku.
Pencairan fasilitas (aksep), PPKD (permohonan persetujuan kekurangan dokumen), ILoan & JHA, SHGB.
Ah, masih pukul satu lebih empat puluh lima menit.
Masih cukup lama untuk menghabiskan waktu ‘kerja’ku sampai pukul lima.
Dan berulang kali aku berlagak seperti orang yang menonton pertandingan badminton, menoleh ke kiri lalu ke kanan, memperhatikan karyawan lain yang saling berbincang santai di antara jam terakhir istirahat.

Cetok!!
Jam dua kurang lima.
Berdiri sebentar melihat kertas lusuh yang tertempel di meja sebelah yang tak berpenghuni.
Daftar nomor telepon ekstensi karyawan di ruangan ini.
Lalu kembali duduk dan merasakan HIV (hasrat ingin vivis).
Tidak ah, aku tahan saja. Dari tadi pagi aku sudah sering bolak-balik ke kamar mandi.

Dambakannya.. rindukannya.. oh sobat, maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti..
Lagu padi sedang mengalun di tengah ruang kantor ku, jadi ingat 2 hari yang lalu, sehari sebelum aku masuk kerja.
Bermain gitar kesayanganku.

Cetok!!
Ah kenapa aku lebih memperhatikan mesin check clock itu daripada mempelajari materi pekerjaanku dengan seksama.
Mataku kini tertuju pada lemper bakar yang dengan kesendiriannya sudah ada dari sebelum aku tiba dari makan bersama karyawan lain.
Sayang, aku sudah makan.
Sudah tak bernafsu lagi aku melihatnya.
Lebih tega membiarkannya kedinginan sama seperti telapak tanganku.

Giliran gelas kosong di dekat keyboardku.
Belum terisi lagi sejak tadi pagi aku meminumnya.
Tertutup dengan rapi dan beralaskan motif serupa dengan tutupnya.

Aku terus mengamati.
Ku dapati tulisan berpigura di bawah jam dinding.
Nilai-nilai budaya kerja dan perilaku karyawan.
Ah kalau boleh aku memberi saran, seharusnya aku tak perlu masuk kerja dulu saat ini.
Membiarkanku berkumpul dengan karyawan baru lainnya untuk mengikuti pelatihan atau pendidikan sebelum benar-benar masuk ruang kantor.
Bagus.. mungkin minggu depan ketika ayahku sudah mulai mengajar lagi, aku akan bawa hape smart untuk update status di twitter.

Rabu, November 18, 2009

-no words-

kalau jantungku tak tertutup tulang rusuk, daging tubuhku, bahkan balutan kemeja dan jaketku, mungkin letupan-letupannya terdengar sangat keras.
dentuman irama gerakannya akan sampai di telinga orang dihadapanku, dan akan malu aku karenanya.

aku gugup.

berdebar.

hingga detik ini ketika sudah berjam-jam berpisah darinya. hingga tak habis ku makan nasi ayam dengan porsi kucingnya. bahkan tak bisa pula aku fokus melihat tayangan gosip yang itu-itu saja.

masih teringat jelas tadi pagi, aku berjumpa dengannya lagi di kampus. gayanya yang khas. tas ransel. jaketnya. sepatu ketsnya.
dan dia hanya menjumpaiku sebentar untuk bilang "pakabar lu?"

siang harinya.
sebuah sms darinya masuk,"selese acara lu?"
tak sempat ku balas karena aku sibuk dengan tampilan web di layar laptop.
hingga sosoknya muncul di hadapanku.
kaget bercampur senang melumuri hatiku kala itu.

kita berbincang santai. ku tatap matanya. memandangku lurus dan tegas, seakan menembus hati dan pikiranku. menelanjangi perasaanku padanya.
tak kuasa aku. ku alihkan pandanganku.

saat kita kembali beradu tatapan, ku coba bertahan menatapnya. namun semua percuma, batinku luruh oleh sinar matanya. ku lempar pandanganku terhadapnya.

saat ku sadari dia sedang berbincang dengan orang lain, ku coba meliriknya.
kuberanikan diri memperhatikannya.
matanya.
hidungnya.
sebagian kanan wajahnya.
jakunnya.

tak pernah aku melihat jakun seorang lelaki sedekat ini.
inikah daya tarik lelaki?
melihat jakun bergerak indahnya, membuatku diam, terpesona, dan aku terjerat olehnya.
subhanallah.

Senin, Oktober 19, 2009

Panggilan kerja.

Jum’at siang. Henpon bordering.. (bunyi khas merk Nokia)
Halo, assalamu’alaikum..
Wa’alaikumsalam..dengan mbak Nisa?? Kami dari ----(maaph, sensor yee), mengundang untuk interview tanggal 12 Oktober jam 1 siang, mbak Nisa bersedia??
Oh, emm, iya bisa. Dimana tempatnya mbak?
Silahkan di catat alamatnya..
Tunggu-tunggu. (gugup, bingung cari kertas ma bolpen, gemeteran)
Oke dimana mbak?
Jalan Letjen S. Parman ------ (sensor lagi yee)
Ada yang mau ditanyakan lagi? karena Mbak Nisa kan dari Surabaya.
Bawa apa aja ya mbak?
Bawa diri aja, persiapkan untuk wawancara.
Oke. Trimakasih mbak.
Selamat siang..klek.

Widiw..panggilan kerja. Panggilan pertamaku..^^
(hanya panggilan, sebelumnya uda pernah interview tapi gak pake panggilan)
Ayah benernya agak kurang suka kalo anaknya dapet panggilan kerja dari perusahaan yang gak jelas. (coz aku emang gak tau perusahaan apa itu, asal ngelamar aja. Hehe. Gara-gara pengen banget kerja)

Akhirnya ayah bersedia mengantarkan anaknya yang ngotot banget pengen ikutan interview ituh. Cari pengalaman aja. Lagian aku pemikiranku saat itu (sekali lagi SAAT ITU) adalah pengen mandiri di kota lain.

Perjalanan ayah dan anak pun di mulai.

Ke terminal bis Purabaya, lanjut naek bis patas tujuan Malang.
Begitu udah jalan, ada bunyi-bunyian aneh dari belakang (kebetulan dapet duduk di belakang deket pintu)
Eh tengah jalan berhenti. Semua penumpang pindah bis.
Di dalem bis kedua, ayah nyapa mantan muridnya yang kuliah di unibraw (sekarang penyebutannya UB ya). Kebetulan anaknya dosen pembimbing S2-nya ayah.
(gak TP2 ke brondong deh yaa..;p)

Nyampek terminal Arjosari, lanjut naek AG. Aku duduk belakang supir, ayah di sebelah supir. Ayah dengan khas ngajarnya seorang guru, bilang ke supir ‘ke jalan S. Parman ----‘ (sambil nunjuk2)
Si supir dengan rambut gondrong yang kayaknya uda jarang keramas, manggut-manggut aja.
Tengah jalan, aku mengamati gedung 1 per 1, sambil liat alamat yang tertera di papan nama. Masih jl. A yani.
Begitu keliatan carefour, baru nyadar sms temen, Kresna, kalo jalan S. Parman tuh setelah Carefour A yani. Oke, bersiap.
Jalan S. Parman.
Ayah ama si supir lagi liat2 nomer --. Aku juga sambil ngintipin mana nomer --.
Begitu lampu merah, kita ketemu nomer yang mendekati nomer --.
‘Turun sini aja yah’, pintaku.

Begitu turun angkot, ayah dan aku pada celingukan cari nomer --.
Ternyata di seberang jalan. Oke kita nyebrang dan melihat bangunan yang di maksud.
Wuih, bagus. Elit kelihatannya. Nama perusahaannya _ _ Future.
Masuk gedungnya aku masih gak ngeh perusahaan apa ini.
Menuju suatu ruangan ngelewatin lorong, disamping kanan banyak ruangan dengan computer nyala ada gambar grafik.
Di dalem ruangan ada meja panjang, kursi-kursi, telepon-telepon, monitor-monitor, dan masih gak ngerti perusahaan bidang apa.
Sambil ngisi formulir, ngobrol-ngobrol ama sesama pelamar, baru nyadar.
Oooooo….. wah pengen pulang dengan segera, tapi yah ikut interviewnya dulu deh. Kasian ayah masih capek juga.

Begitu 6 nama di panggil, naeklah ke lantai tiga. Ngos-ngosan juga. Mana sebelumnya mati lampu. Zlep. Jadi kayak jurit malam. (khayalan tingkat tinggi)
Masuk ruangan, di depan uda ada mbak cantik. (aku yang milih duduk di depan mbak cantik se, coz interviewer yang laennya cowok)
Ditanyain pertanyaa standard, uda pernah kerja apa belum, motivasi, kuliah jurusan apa.
Begitu tau aku dari Surabaya, si mbak tadi tanya, gimana kalo harus mengikuti tes tulis selanjutnya besoknya dan lusanya seharian penuh.
Berhubung aku uda gak tertarik dari ketika dikasih tau kalo ini perusahaan kayak gimana, so aku bilang aja masih sibuk ngurus legalisiran di kampus. (dalam ati sih bilang, mending grudukan bursa karir ITS de..)

Keluar dari gedungnya, pengen moto si, tapi gak de daripada ada kasus kalo ku pajang di blog.
Td ayah sms kalo lagi di mesjid deket situ. So ku hampiri ayahku disana.
Di mesjid, enak banget. Hawanya sejuk. Aernya dingin-dingin seger. Apalagi dipake wudhu buat orang yang lagi puasa, huahh.. ^^
Habis sholat dhuhur, sekalian tunggu ashar biar gak tanggungan ntar di jalan.
Eh ayah disuruh azan sama pak kyai yang megang kunci. Kesempatan langka nih, so ku poto ayah dari tempat jamaah wanita.


Aku juga poto ni..


Perjalanan pulang.
Naek bis duduk paling belakang (bangku buat 5 orang, tp karena ada kamar mandinya, jadi Cuma cukup buat 3 orang)


Update status twitter ma fesbuk.
Yah semuanya diambil hikmahnya aja:
1. Jangan ngawur ngelamar kerja. Yang pasti2 aja de.
2. Jadikan sebuah pengalaman hidup yang bisa di ceritakan di blog^^
3. Jadi jalan2 ama ayah, sebelumnya kan gak pernah..;p
4. Masih cinta Surabaya meskipun HOT!!

Apa yang terjadi dalam hidup adalah proses pembelajaran. Sabar. Dan semua indah pada waktunya..

Minggu, April 05, 2009

Kenangan dalam Sebuah Senyuman

-inDi tengah-tengah asap putih itu, aku melihatnya sedang membakar tumpukan sampah. Sosok tua yang sudah dua puluh tahun merawatku. Aku tak tahu bahwa itulah terakhir kalinya ku lihat tubuhnya yang tua renta masih dapat berdiri dengan sedikit membungkuk.

Seminggu yang lalu nenekku jatuh sakit. Kanker hati kata dokter. Begitu banyak obat yang harus dikonsumsinya. Tapi itu juga perkataan yang aku dengar dari orang tuaku saat menjenguknya. Aku sendiri belum sempat melihat kondisi sesungguhnya, dan aku merasa nenek akan membaik. Dua tahun yang lalu ketika nenek ingin merasakan minuman bersoda, tiba-tiba saja langsung jatuh sakit dan diopname di rumah sakit. Tapi toh nenek sehat lagi. Tak ada bedanya ketika terakhir kali aku mengunjungi rumahnya sebulan lalu.

Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah yang datang bertubi-tubi untuk mendongkrak nillai UTS yang anjlok. Tak terpikirkan olehku untuk sekali saja bertemu nenek yang menganggapku cucu tersayangnya. Ayah dan ibu sudah berkali-kali mengingatkanku untuk melihat kondisinya. “Nenekmu kangen sama kamu lho,Nduk! Terus-terusan nanyain kamu!” kata ibu.

Niatanku untuk mampir sebentar ke rumah nenek belum juga terwujud. Terlalu sering aku tak berada di rumah. Praktikum yang terus-menerus membuatku lelah. Dan untuk membunuh kelelahanku, aku pergi jalan-jalan bersama teman satu kelompok praktikum. Karena kemalaman, akhirnya aku menginap di rumah kontrakkan teman kuliahku.

Hampir seminggu kegiatanku tak terhentikan. Hingga suatu sore handphoneku berdering. Di layar tertulis ‘ibu’. Begitu banyak kalimat yang dilontarkan ibu, sehingga aku tak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir hangat di pipiku. Tari, sahabatku, langsung menghampiri dan menanyakan keadaanku. Aku termenung. Tari terus menerus mendesakku. Aku ceritakan yang terjadi, dan ia langsung membentakku, “Cepat pergi! Sebelum terlambat! Masalah laporan praktikum biar aku dan teman-teman yang mengurusnya.”

Di perjalanan, tak henti-hentinya aku menyumpahi diriku sendiri. Egois. Sok sibuk. Tak seharusnya aku meremehkan kondisi nenek. Hingga saat ini aku harus menyesali perilakuku sendiri. Dan semuanya tumpah melalui tangisan di dalam helm teropongku.

Saat tiba di pelataran, aku sempatkan untuk menghapus sisa air mataku. Dan dengan senyuman yang ku buat setegar mungkin, ku langkahkan kakiku menuju rumah nenek. Hampir semua kerabatku berkumpul. Pakdhe, budhe, om, tante dan sepupu-sepupuku. Semua tatapan tertuju padaku. Seketika itu pula aku meninggalkan mereka dan langsung menuju kamar nenek yang dulu sering ku tiduri bersama nenek kalau aku sedang dimarahi orang tuaku.

“Nenek..ini Amel. Nenek gak papa kan?” suaraku terdengar sedikit bergetar di telingaku.

“Bacakan surat Yasin buat nenek ya, nduk.” Jawab nenekku yang semakin membuatku tak bisa melontarkan sepatah katapun. Ku coba untuk bangkit dan mengambil air wudhu sebelum membaca surat Yasin. Hatiku benar-benar galau saat membacanya. Dan semakin ku coba untuk meyakinkan diriku bahwa nenek akan baik-baik saja, semakin aku tak kuasa untuk menahan air mataku yang tumpah lagi.

Selesai membaca, ku pegang tangan nenek yang sudah tinggal tulang dan kulit itu. Jauh berbeda dengan badanku penuh lemak ini. “Nenek udah gak papa kok nduk. Makasih ya. Amel kuliah yang bener, biar cepet lulus” suara nenek yang lemah ditambah senyuman yang tersungging dengan tulus itu membuat ku mengangguk tanpa suara. Dan sesaat kemudian nenek memejamkan matanya. Aku terkejut. Ku lihat dadanya masih bergerak. Aku merasa lega. Namun, tangisanku tetap saja pecah.

Sehari berikutnya, semua keluargaku berkumpul. Tak akan ada lagi hari-hariku bersama nenek seperti dulu. Tak ada lagi yang membuatkan kue kesukaanku. Di tengah-tengah asap putih hasil pembakaran sampah pun tak lagi ku temui sosok tua itu yang menganggapku cucu kesayangannya. Ingatanku seakan menembus waktu yang terlampaui ketika aku masih kecil. Aku sering membentak nenek. Padahal nenek sangat sayang padaku. Bahkan hingga detik terakhirnya, masih menanyakan kondisiku.

Sampai detik ini, aku masih berandai-andai. Andai semua hanya mimpi. Dan semua kembali terbangun dari lelapnya tidur. Aku masih termenung melihat ayat-ayat dalam surat Yasin ditanganku. Tapi kini aku hanya bisa pasrah. Dan menyadari bahwa bacaan surat Yasinku 40 hari yang lalu adalah hal terbaik dan terakhir yang aku lakukan pada nenek. Penyesalan yang menyembul ke permukaan hatiku karena aku terlalu sibuk dengan tugas-tugasku sudah tak berarti lagi. Nenek sudah tenang disana.

Sosok nenek yang tua masih saja membekas dalam ingatanku. Tiba-tiba suara nenek terdengar jelas ditelingaku, “Terimakasih Amel. Nenek sayang sama kamu, nduk.” Sosoknya hadir di sebelahku. Aku kaget. “nenek?!” dan kemudian nenek tersenyum padaku. Senyuman yang sama dengan yang terakhir kali kulihat. Aku bahagia melihatnya, hingga tak terasa ku pejamkan mataku. Sesaat kemudian ibu membangunkan tidurku.“Bangun, nduk! Orang lain pada doain nenek kok kamu malah tidur.” Kata ibu yang langsung membuatku sadar dari tidurku. Ternyata aku tertidur selama pengajian tadi. Ku tutup buku Tahlil, dan ku lihat foto nenek yang tersenyum. Aku yakin seluruh kenanganku bersama nenek selama dua puluh tahun akan terus melekat dalam ingatanku bersama senyuman bahagia milik nenek. Amel sayang nenek.

Minggu, Maret 22, 2009

“Sekejap Mata”


Saat ku buka mata untuk yang pertama kalinya, ada sosok amat besar yang mengamatiku dengan wajah penuh senyuman. Dan alunan merdu di telingaku telah membawa kedamaian jiwa. Mengingatkanku akan sumpahku di hadapan yang Maha Bercahaya, lalu tiba-tiba aku merasakan cairan di sekujur tubuhku yang belum sempurna. Dan ruangan yang kutempati membuatku tak bisa bergerak dengan bebasnya ketika ku rasakan seluruh tubuhku sudah tak muat lagi di dalamnya. Aku harus keluar dari tempat itu, untuk menjemput hawa kebebasan. Tetapi udara di luar sangat dingin dan penuh dengan konsekuensi yang tak sepenuhnya seperti harapanku. Sehingga ku putuskan untuk memejamkan mataku sambil ditemani sayup-sayup alunan tadi. Aku terlelap.


Kini aku mengenal sosok yang memandangku waktu itu. Dia ayahku, dan alunan merdu itu adalah adzan. Lalu, sosok disebelahku adalah ibuku yang sedang memberikan air kehidupan yang telah menghapus dahagaku ini. Serta merta ia memelukku dengan kasih sayangnya yang lembut. Kedua orang tuaku begitu mencurahkan seluruh perhatiannya padaku. Pada pertambahan berat badanku, kesehatanku, helai rambut yang tumbuh di kepalaku, gigi mungil yang muncul dari gusiku, dan seluruh ucapan serta tingkah polaku.


Ku temui nenek dan kakekku, saudara-saudara ayah dan ibuku, anak-anak dari saudara-saudara ayah-ibuku, serta saudaraku yang lain. Begitu pula dokter dan suster yang menimbang beratku dan memberikan berbagai macam imunisasi, teman-teman satu angkatan kelahiran denganku. Rasanya semua menyenangkan berada di sini. Di dunia yang penuh realita.
Mataku kembali terbuka pagi ini. Dan aku harus mengenakan seragamku, mengikat tali sepatu yang berbulan-bulan aku mempelajarinya, membawa setumpuk buku pelajaran, dan bertemu hari serta kejadian baru di hadapanku. Memiliki teman satu bangku yang bisa ku ajak bekerja sama saat ulangan tiba, guru Matematika yang minta ampun galaknya, serta orang yang selalu menjahili dan memusuhiku.


Semakin bertambah usiaku, yang kata pak ustadz berarti pengurangan jatah hidup di dunia, semakin bertambah pengetahuanku, kemampuanku, dan tentunya pakaian yang sudah tak muat lagi. Bahkan ocehanku yang dulu membuat orang tuaku tertawa bahagia, kini justru sebaliknya. Kadang-kadang mereka menangisiku. Tapi mereka tetap sayang padaku dan terus mengucapkan namaku dalam setiap doa mereka. Aku mendengarnya suatu saat, hingga aku merasa harus berubah. Menjadi seorang yang dewasa.


Pilihan yang ku ambil untuk menjadi seorang dewasa, telah memberiku berjuta masalah yang tak henti-hentinya menimpaku. Inilah hidup, begitu kata orang bijak berkata bahwa hidup tanpa masalah sama saja mati. Dan aku menyadari inilah yang memberikan warna dalam hidupku, dan aku akan menjadi seseorang yang lebih baik ketika berhasil mengatasi masalah satu persatu.
Aku mengenal cinta. Ia yang telah membuatku salah tingkah. Mengajarkanku merasakan desir-desir saat bersentuhan dengannya. Memberikan senyuman terindahnya di setiap sudut hariku. Menginspirasikan banyak kata dalam pikiranku yang tumpah ruah dalam bentuk puisi. Dan mengantarkanku ke gerbang energi positif sehingga aku mampu melahap gelar akademisku serta pekerjaan yang ku raih. Ia pula yang memperlihatkanku akan cinta orang tuaku selama ini. Cinta tanpa henti. Cinta tanpa imbalan. Hingga saat terakhir ku pandangi wajah orang tuaku.
Ketika ku buka kembali mataku, di hadapanku duduk seorang pria yang mencintaiku. Dan dengan sorot mata yang tegas tapi memancarkan kekagumannya padaku, ia meminangku dengan mantap di depan penghulu. Seketika itu pula pipiku terasa hangat. Merasakan aliran bahagia dari ucapan suamiku. Dan mengetahui bahwa orang tuaku juga ikut tersenyum bahagia melihatku.


Tak ada yang abadi di dunia ini. Sekalipun meminta pada Yang Maha Berkuasa untuk memanjangkan usia, memberi kesehatan, dan segala kesejahteraan di dalamnya. Semua keputusan ada di tanganNya, segala yang dititahkan adalah harus tanpa bisa di tawar lagi. Aku seperti mengulang kejadian berpuluh-puluh tahun lalu saat ingin ku raup kebebasan jiwaku, dan kembali menatap Yang Maha Bercahaya.


Tapi aku harus menuntaskan kewajiban terakhirku. Memberikan kebebasan pada bayi mungilku yang telah mengajariku untuk lebih sabar. Sejak ada sesuatu yang bergejolak dan membuatku merasakan cairan hangat dan kecut dalam tenggorokanku hingga ku tumpahkan semuanya. Sejak ia hadir di dalam rahimku. Dan aku mulai membiarkan bobotku terus bertambah demi sebuah nyawa yang ingin melihat dunia.


Kini dengan tatapan dan nafasku yang terakhir, bayi mungilku telah menggantikanku meneruskan kehidupanku yang terhenti. Lalu ku pejamkan mata. Aku terlelap selamanya. Dan saat ku buka penglihatanku, sayup-sayup ku dengar alunan merdu surat Yasin dan tahlil menemani ragaku yang kaku di tengah ruangan.

Senin, Februari 23, 2009

“Hmm, ini to arti mimpiku ?”

“Tante!!!”
Tunggu dulu, anak kecil itu panggil aku dengan sebutan tante?? Nggak salah?? Aku masih muda gini, dipanggil tante?? Sejak kapan aku nikah dengan Oomnya? Aneh. Oh, mungkin dia salah orang, mungkin yang dimaksud ibu-ibu dibelakangku yang memakai kaca mata hitam – yang menurutku norak abis – itu. Sejenak aku melirik ke arah kaca spion sepeda motorku, dan ku lihat ibu tadi dengan santainya membetulkan kaca mata hitamnya yang melorot.
“Ya, pasti ibu itu yang dipanggil anak nggak jelas itu. Mana mungkin aku!” bisikku lirih.
Eits, tapi kenapa anak ini berhenti disampingku?? Sambil senyum-senyum nggak jelas.
“Tante udah nunggu lama ya? Maap ya, tadi macih antli ambil kalcis pulang. Hehe.. makcudnya antli calim cama Bu gulu. Dalipada lebutan, aku mending duduk dulu cambil galuk-galuk pantat. Hehe..”
Waduh ni anak jorok amat, mana masih pelat, ngomongnya banyak lagi. Ngapain sih nyamperin aku, ibunya mana ya? Nggak salah orang dik? Wah, gawat ni kalau ibunya dateng terus ngomel-ngomel dan nuduh aku mau culik anaknya. Mending anak ini aku diamkan saja.
“Tante Ucil malah ya? Kalena Bagas kelual cekolahnya lama? Kan tadi udah minta maap. Cekalang antel Bagas ke Toko Buku Kawan dulu ya, Bagas mau beli clayon, punya Bagas udah tinggal dikit. Becok ada pelajalan menggambal. Tapi pake duitnya Tante Ucil dulu ya.” Cerocos anak kecil itu sambil langsung naik ke sepeda motorku.
“Eh, eh, eh, siapa kamu?? Tunggu dulu, turun dari motorku sekarang juga! Tau dari mana namaku Ucil? Itu kan cuma nama panggilanku di rumah. Lagipula ngapain aku harus belikan kamu crayon? Adik bukan, sodara bukan, ponakan juga bukan. Ayo turun dulu!”
Enak aja dia sembarangan minta anter pulang, aku kan disini jemput ibuku yang pulang naik angkot. Plis deh, siapa sih anak ini. Sok kenal banget. Kalau dilihat dari wajahnya, sepertinya aku kenal. Ya, mirip-mirip gitu. Tapi siapa?
“ Aduh.. malah ya malah, tapi jangan bentak – bentak Bagas gitu dong!” Tubuh kecilnya langsung turun dan mendekat ke samping kiriku. Dengan mata yang kelihatannya marah tapi malah tampak lucu itu, dia menatapku. Siapa tadi namanya? Bagas? Ya, kalau aku perhatikan ternyata rambutnya kriwul mirip… kakakku! Ya, kakakku yang minta ampun cerewetnya. Dan sifat itu juga ada di anak ini! Jangan-jangan dia anak kak Lupi. Hei, tapi kak Lupi kan belum hamil.
“Tante ini gimana cih, cama ponakan cendili kok lupa!”
Walah, dia ngaku-ngaku ponakanku? Jangan ngaco deh. Sambil memperhatikannya aku bertanya, “Memang kamu anaknya siapa? Ngaku-ngaku ponakanku, kakakku aja belum hamil. Jangan sembarangan adik kriwul..”
“Dacal Tante Ucil Malucil cukanya mengupil! Bagas bica pulang cendili!” anak itu langsung berlari meninggalkanku sekencang-kencangnya dan hilang dalam sekejap.
“O.. Bocah tengil! udah item, kriwul, cerewet pula! Amit – amit punya adik gitu. Eh, tapi dia tahu ejekan kak Lupi ke aku. Kan cuma kak Lupi yang punya panggilan ejekan gitu. Apa dia anak kak Lupi? Tapi kan…”
Kring..!! Kring..!! Kring..!!
Dalam sekejap aku terbangun dan langsung ambil posisi duduk. Dengan mata terbelalak, aku melihat jam wekerku yang minta ampun nyaringnya. Tapi aku langsung teringat kejadian barusan. Cuma mimpi. Ya, anak kecil bernama Bagas itu cuma hadir di mimpiku.
Besok paginya aku pergi ke rumah kak Lupi sebelum berangkat menuju kampus. Biasalah, antar titipan ibu yang masih saja khawatir dengan anaknya yang sudah berkeluarga. Nasi goreng ala ibu yang jadi makanan kesukaan kakakku. Rumah kak Lupi yang hanya beberapa blok dari rumahku, membuat ibu sering kirim makanan. Takut kak Lupi nggak bisa bagi waktu antara masak, nyiapin keperluan suaminya, dan keperluan kantornya sendiri. Ya, namanya juga ibu – ibu.
“Assalamu’alaikum.. Kak, nih ibu bikin nasi goreng kesukaanmu. Mau berangkat ya? Halo Mas! Tumben udah rapi. Biasanya jam segini baru mau mandi.” Sapaku panjang lebar ke kak Lupi dan Mas Wawan.
“Hey Cil, wah nasi goreng ya? Pasti enak tuh buatan ibu mertua. Iya nih, mau pergi sebentar antar kakakmu ke dokter.”
“Hah? Kak Lupi sakit apa? Sejak kapan sakitnya? Kok nggak bilang – bilang ke rumah?” tanyaku sambil meyajikan nasi goreng ke atas piring. Tapi, aku lihat kak Lupi segar bugar. Apa jangan-jangan dia..
“Nggak kok, Kak Lupi nggak sakit. Kamu mau punya ponakan nggak? Nah, ini mau periksa ke dokter kandungan.” Jawab Mas Wawan menenangkan sekaligus membuatku kaget.
“Hah?? Ponakan? Yang bener! Wah mau banget! Oh, pantes tadi malam aku mimpi di datangi anak kecil ngaku jadi ponakanku. Namanya Bagas. Mirip banget sama kak Lupi dan Mas Wawan. Anaknya tuh item, kriwul, sama cerewet banget. Persis seperti mas Wawan dan Kak Lupi kan?! Hmm, ini to arti mimpiku. Selamat ya Mas. Wah ayah sama ibu pasti seneng banget denger berita ini.” Seruku.
“Dan nanti aku terus – terusan disuruh antar makanan ke sini, ditambah lagi ibu jadi lebih heboh jaga kak Lupi. Hihi.. pasti seru punya ponakan, sepeti Bagas.” Sambungku lirih.
“Kenapa Cil? Bagas? Siapa?” Tanya kak Lupi tiba-tiba, dan aku hanya tersenyum simpul.

Jumat, Januari 23, 2009

SATU HARIKU

Malam harinya aku telah membuat janji untuk bertemu dengan seseorang, dan semua rencana telah tersusun rapi di kepalaku. Aku bilang pada teman-temanku yang sedang duduk berkumpul untuk pergi sebentar. Salah seorang bertanya padaku, “mau kemana?” dan nada yang kurasa agak sedikit bergetar aku meluncurkan kata, “mau ke ATM ambil uang kiriman dari orang tua.” Mungkin dia sedikit mendengar suaraku bergetar, “perlu diantar?” namun aku berusaha menyembunyikan kegugupanku padanya dengan memeberinya sedikit senyuman dalam gelengan kepalaku.
Dengan langkah agak kubuat cepat, aku menjauhi kerumunan teman-temanku untuk pergi menemuinya. Aku terlalu takut untuk dapat terkejar oleh Tari yang mengetahui seluk beluk hatiku dengan orang yang hendak ku temui. Aman. Tapi dengan segera aku menyadari tak ada orang yang ku cari di tempat yang kutuju. Hanya pegawai yang sedang sibuk mengantarkan menu-menu yang di pesan oleh beberapa pengunjung dalam kafe kampus. “ kemana ya?” bisikku.
Hujan mulai turun dengan nada gerimisnya. Tapi orang itu belum juga datang. Orang yang selama ini menemani hidupku di kota besar ini. Yang dengan setia menunggu hatiku untuk bisa berpaling padanya. Yang dengan ketabahannya menerima segala amarahku. Egoku. Dan semenjak malam tanpa bintang itu, aku menemukan kerinduan yang mendalam padanya. Dia mengunjungi rumah kosku tanpa ku minta. Mengobrol di teras kosku, seperti saat kita menempuh sebulan menjalin hubungan. Tak ada yang berbeda. Dan semenjak saat itu, tanpa ada ungkapan diantara kita, aku dan dia kembali bersama. Dia yang kubutuhkan. Farhan.
Entah mengapa aku kembali melangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkan kafe kampus yang lebih sering dikunjungi oleh mahasiswa yang berduit itu. Aku tak menghiraukan hujan yang perlahan namun pasti membuatku basah kuyup. Dengan sedikit berlari aku menuju jalanan beraspal, menutupi kepalaku dengan buku agendaku, dan menghindari genangan air di pelataran kafe. Namun tanpa sengaja aku menginjak genangan air di tepi jalan yang tak ku ketahui sehingga membuat airnya semburat ke berbagai arah. “ Ahh..” teriakku. Kini celana jeansku basah.
Aku terus melangkah. Dan tanpa sadar, perjalananku menuju kampus Farhan yang terletak tak jauh dari kafe kampus. Tapi seketika aku menghentikan langkah kaki. Teriakan namaku membuatku berpaling pada dua orang di belakangku.
“Amel! Mau kemana?” Ayu dan Raya. Dua sejoli yang selalu bersama. Mengambil bidang minat yang sama, mata kuliah yang sama, kerja praktek di tempat yang sama, bahkan hari ulang tahun mereka berdekatan. Dan ketika salah satu dari mereka telah mendapatkan pasangan, maka yang lainnya juga menyusul memiliki pasangan. Sempat aku merasa aneh pada mereka berdua. Tapi Tuhan telah menakdirkan demikian.
“aku mau ke perpustakaan, ada buku yang harus ku kembalikan” kali ini aku tidak berbohong. Tiba-tiba saja pikiranku menuntunku untuk mengalihkan tujuanku sebelumnya. “bareng ya. Kita juga mau kesana” aku mengangguk sambil tersenyum.
Tapi sedetik kemudian Tari yang tadi masih di jurusan muncul di sampingku dengan tatapan selidiknya. Seolah mengatakan ‘kau telah berbohong, aku melihat arah kakimu tidak menuju perpustakaan’. Dan seketika itu aku berlari menjauhi mereka bertiga. Aku tak lagi menghiraukan percikan air yang kembali membasahi celanaku, bahkan aku tak lagi menutupi kepalaku dengan buku agenda. Arahku tak tentu hingga aku terjatuh. Berguling-guling. Tak ku dengar teriakan kepedulian mereka.
Aku terjatuh dari tempat tidur, hanya suara erangan kesakitan dari mulutku yang terdengar setelahnya. Mimpi.

Jam telah menunjukkan pukul 3 pagi setelah aku benar-benar sadar suara alarm handphoneku berdering. Aku bangkit dan mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat isyak yang hampir saja ku lewati. Setelah selesai, aku menggapai HP yang terselip di antara dua gulingku. Satu pesan belum kubaca. Dari Farhan.
Bangun sayang, sholat tahajud yuk!
Aku tersenyum membacanya, tapi tak membalasnya. Dan kembali meletakkan tubuhku di atas kasur. Untuk sesaat aku tak dapat memejamkan mata. Entah karena pesan singkat dari Farhan atau rasa takut akan mimpi yang menjadi kenyataan esok hari. Aku merasa malu untuk mengakui pada Tari bahwa aku telah bersama Farhan lagi. Karena sebelumnya aku pernah bercerita bahwa aku tak akan bersamanya lagi dan itu untuk selamanya. Senjata makan tuan.

Pagi hari ketika aku sampai di jurusan Matematika, jurusan yang telah aku tempuh selama hampir empat tahun, aku bertemu Yanto. Kebetulan hari itu aku ingin melihat nilai satu mata kuliah yang belum keluar. Kebetulan Yanto, temanku yang terkenal jayus akan leluconnya, membawa laptop. Dengan segera aku memintanya untuk membuka website kampus. Tapi dia justru memberiku tebakan, “kenapa anak babi kalo jalan pasti menunduk ke bawah? Ayo kenapa?” untuk menyenangkan hatinya, aku berpura-pura untuk memikirkan jawabannya. Aku bertingkah seolah sangat serius. Namun aku melemparkan pertanyaan padanya kembali. “kenapa, To?” dan dengan segera ia meremehkanku. “ah gitu aja gak bisa. Ayo jawab dulu. Nyerah? Oke. Karena anak babi itu malu, tahu kalo orang tuanya babi. Hahahaha” katanya cepat sambil diikuti tawanya yang lepas. Sementara aku hanya tersenyum mengangkat satu ujung bibirku, mencoba menghormati dirinya.
Tapi terkadang aku merasa terhibur dengan lelucon basinya. Dia bisa membuatku sedikit tersenyum. Walaupun setelahnya aku kembali memikirkan masalah yang menderaku. Terutama saat aku sedang bermasalah dengan Farhan. Dia tahu banyak tentang Farhan, karena pernah satu kelas saat Tahun Pertama Bersama pada awal kuliah dulu. Tapi dia hanya ku anggap sahabatku. Tak lebih.

Dihadapanku kini terpampang semua nilai mata kuliahku di semester tujuh ini. Kecuali mata kuliah bernama Tugas Akhir. Aku telah mencentang Tugas Akhir semester ini, namun aku belum bisa menyelesaikannya. Dan ku putuskan untuk menundanya di semester depan. Aku sudah memutuskannya sebelum ujian akhir semester ini berlangsung dua minggu yang lalu. Dan aku menyadari bahwa aku akan mendapatkan nilai E untuk Tugas Akhir. Tapi entah mengapa rasa sedih dan sesal menyelusup dengan perlahan ke dalam relung jiwaku. Menyadari bahwa aku tak bisa memberikan yang terbaik untuk orang tuaku semester ini. Berpuluh-puluh kilometer aku berada jauh dari mereka. Namun aku bisa merasakan kekecewaan mereka saat ini juga. Lebih dekat dari Yanto yang ada di sebelahku.
Keheningan melanda diriku, dan seakan sekitarku menatapku terpaku. Yanto berusaha menenangkan diriku yang tanpa berkedip melihat angka-angka indeks prestasiku. Merosot dengan tajam seperti saat aku memainkan perosotan di taman bermain dekat ruangan kelas TK dulu.
Aku naik ke atas perosotan TK itu dengan sebuah senyuman di bibirku. Bersiap untuk melakukan teriakan yang mampu memekakkan telinga siapa saja di sekelilingku. Dengan bangga aku mempertontonkan kehebatanku meluncur di atas permukaan melengkung yang licin. Dan sekejap kemudian lengkingan panjang keluar dari mulutku disertai lambaian tanganku mengarah ke atas. Cepat sekali. Tapi hatiku bahagia.
Tiba-tiba Sari muncul menuruni tangga setelah bertemu dengan dosen pembimbingnya. Dengan senyuman malu-malu tersungging di wajahnya, dia menghampiri kami yang saat itu sudah ada Dian selain aku dan Yanto. Tanpa kuduga dia menyapa kami dengan kalimat yang membuat rasa sesal menyusup mendobrak hati dan pikiranku. Dia dapat nilai A untuk Tugas Akhirnya. Aku menatap layar laptop milik Yanto. Tapi pandanganku menembus layar itu. Terus melewati komponen-komponen sebuah layar laptop, dan jauh. Pikiranku jauh berkelana saat aku hendak memutuskan untuk menunda mengerjakan Tugas Akhirku sebelum ujian akhir semester ini berlangsung dua minggu yang lalu. Seandainya saja aku mau lebih berusaha keras. Dan semua pandanganku yang kosong itu terhenti dengan kata-kata pengandaian.
Aku pernah membaca sebuah kumpulan cerpen milik penulis terkenal. Dia bercerita banyak hal di dalamnya. Tapi aku terkesima membaca tulisannya tentang suatu pengandaian. Tidak ada seorangpun yang berharap kecewa. Imajinasi selalu datang dengan sempurna. Hadir untuk mencapai kesempurnaan dan keluar dari kenyataan yang tidak memuaskan.

Aku teringat janji dengan Farhan. Sekarang masih pukul sembilan pagi. Masih ada waktu untuk mengambil formulir pembayaran SPP untukku dan dirinya. Ku putuskan untuk pergi dari obrolan yang hanya akan membuatku terus menyesal. Apalagi Uni datang menghampiri. Aku masih ingat bagaimana dia menyindirku yang tidak berpakaian sama dengannya ketika seharusnya aku dan dia melaksanakan seminar untuk Tugas Akhir. Namun kenyataannya hanya dia, Sari, dan Hilda. Tanpa aku. Ah, sudahlah. Aku berjalan menyusuri jalanan setapak keluar menuju Bank yang dekat dengan kafe kampus. Teringat mimpi semalam yang menurutku konyol. Tidak ada Tari hari ini. Dia belum datang.
Ketika membelok ke arah satpam yang berjaga di depan bank, aku bertemu dengan teman sejurusanku. Kita berbincang sebentar tentang kesibukannya, keinginannya, dan yah curhatnya tentang kekasihnya yang acuh tak acuh. Aku berusaha meladeninya secara wajar. Dan ternyata aku memperoleh formulir pembayaran SPP darinya yang diambilnya lebih untuk siapapun yang memerlukannya. Semoga Tuhan membalas kebaikannya, dan memberinya kekasih yang mencintainya dengan tulus. Amin.
Setelah berpamitan dengannya, aku kembali melanjutkan perjalananku menuju perpustakaan. Dan memang janjiku pada Farhan bahwa kita akan bertemu di sekitar perpustakaan. Jadi sekalian saja aku mengembalikan beberapa buku yang telah jatuh tempo tanggal pengembalian. Pandanganku berkeliling mengamati ruangan kafe kampus yang terbuka itu. Sengaja aku melewatinya untuk mengambil jalan pintas. Dan aku menemukan sosok sahabat lamaku. Dia sedang berbincang dengan seorang laki-laki sambil laptop terbuka di hadapan keduanya. Aku masih mengingat bagaimana kita dahulu selalu bersama kemanapun kaki melangkah. Kita selalu sehati. Apa yang kita pikirkan selalu bisa tertebak satu sama lain. Indah sekali masa itu. Namun setelah setahun kita bersama, dia memutuskan untuk pindah jurusan. Aku tahu itu haknya. Tapi di sisi lain aku marah dengan keputusannya. Aku akan merasa sendiri. Meskipun akhirnya aku menyadari aku tak berhak marah padanya. Sekali lagi itu haknya. Dan kita masih bisa bertemu dan bercanda di suatu waktu. Tapi hal itu sudah jarang terjadi lagi. kita sudah sibuk dengan kuliah masing-masing. Aku hanya melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum sendiri.
Jalanan yang ku tempuh cukup jauh untuk bisa sampai di perpustakaan. Aku melewati gedung yang biasa ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan studinya. Dimana banyak tersedia lowongan pekerjaan terpampang di tempat seperti majalah dinding di depan gedung itu. Ku sempatkan untuk mampir sebentar, melihat pekerjaan yang mungkin bisa ku lakukan secara part time untuk menambah penghasilanku si kota rantauan ini. Tapi percuma. Yang mereka butuhkan adalah orang yang bergelar S1. Dan aku telah menunda menyandang gelar itu semester ini.

Memasuki perpustakaan kampusku, berarti berkencan dengan jutaan buku, menikmati bau khas perpustakaan, merasakan hawa orang pintar. Sudah cukup sering aku mengunjungi perpustakaan sejak aku menambahkan Tugas Akhir pada Formulir Rencana Studiku yang dilakukan secara online. Padahal sebelumnya hanya mampir untuk membeli kue-kue di bagian kantinnya. Tapi sekarang lebih kepada melihat buku-buku di lantai empat atau lima, walaupun terkadang hanya bisa bertahan selama 30 menit atau bahkan kurang. Selebihnya hanya memandang sekitar, menguap lebar, mengantuk, tertidur sebentar, dan turun untuk meninggalkan perpustakaan atau menikmati kue-kue di bagian kantin.
Menukarkan kartu identitas dengan kunci loker. Meletakkan barang yang tidak perlu dibawa, membawa dompet, buku, catatan, flash disk, dan bolpoin. Melewati pintu dengan tiga gagang yang bisa diputar, kadang-kadang mengetikkan nomor mahasiswa untuk membantu petugas menghitung banyaknya orang yang masuk perpustakaan. Menuju lift. Menekan tombol lantai. Dan keluar dari lift. Itulah serentetan kegiatan yang harus dilalui di perpustakaan sebelum menjumpai rak-rak buku yang berjajar.
Aku menuju salah satu bangku terdekat dan menulis judul dan nomor buku yang akan ku kembalikan supaya jika aku membutuhkannya lagi, aku bisa dengan segera menemukannya. Lalu beranjak dari tempatku duduk menuju ruangan sirkulasi untuk mengembalikan buku dan meminjam ulang sebagian buku lainnya yang masih ku perlukan. Seorang bapak yang sama waktu aku terakhir kali menjumpainya dua minggu yang lalu. Waktu itu earphone menggantung di telingaku dan tertutup sebagian karena jilbabku. Kemudian bapak itu menanyaiku. “Mbak Amel siapa dosen walinya?” agak terkaget juga aku mendengarnya, “Bu Endah, Pak. Bapak kenal?” tanyaku selidik. Dan bapak itu menimpaliku, “sabar ya orangnya.” Rasa ingin tahuku membumbung, “iya, Pak. Bapak kenal dengan Bu Endah??” tapi Bapak itu malah terdiam seiring tugasnya memeriksa bar code pada buku yang ku pinjam selesai. Dan aku pergi meninggalkannya. Sejurus kemudian aku berpikir, apa karena aku sedang menempelkan earphone ke telinga yang menandakan aku sedang mendengarkan lagu dari HPku dan bapak tadi merasa tidak sopan. Entahlah.
Aku langsung menuju ruangan tempat dipajangnya buku kumpulan Tugas Akhir di lantai empat. Ku rasa tidak perlu menggunakan lift, karena hanya beda satu lantai dari lantai lima tempat aku tadi. Di lantai empat, terdapat beberapa ruangan. Aku menuju ruangan TA di sebelah kiri. Setelah mendapati buku TA yang telah kubaca dari empat bulan yang lalu, membolak-balik, dan menyecan gambar yang diperlukan, aku keluar. Turun ke lantai satu, mampir sebentar di bagian pemeriksaan buku, menerima tanda stempel tulisan TERKONTROL di struk peminjaman, ambil barang di loker, dan menukarkan kunci dengan kartu identitas yang ku titipkan tadi.
Petugas yang menjaga kunci loker itu aneh. Seorang pria, tapi agak sedikit kemayu. Kadang dia menyanyi dangdut, kadang dia menari poco-poco di belakang kursinya, hingga para pengunjung perpustaaan harus menunggu dia menyelesaikan tariannya atau ketika dia kelelahan. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika dia menukarkan kartu identitas pengunjung laki-laki dengan kartu identitas perempuan. “siapa tahu berjodoh setelah tukar menukar kartu identitas” katanya. Tapi aku selalu waspada padanya.
Aku meninggalkan perpustakaan, dan menunggu Farhan di bangku tak jauh dari perpustakaan. Lama. Sambil menunggu, ku baca buku novel yang ku pinjam dari teman satu jurusanku. Aku membuka HP dan kubaca kembali pesan sigkat yang dia kirimkan padaku tadi pagi
Aku berangkat dari rumah jam sebelasan, jadi kita ke bank jam setengah dua belas. Oke sayang?
Ku ketikkan sms balasan untuknya.
Ku tunggu kamu di bangku dekat perpus ya. Aku mau kasih kamu formulir pembayaran. Kayaknya aku gak ikut kamu ke bank, biar aku bayar sendiri aja. Aku mau packing untuk pulang. Gak papa kan?
Tak ada balasan dari Farhan. Tapi tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakangku. “Assalamualaikum..” sapa Farhan disertai senyuman manis untukku.
“Hei, Wa’alaikumsalam. Ini formulir pembayarannya. Gak papa kan kamu bayar sendiri?” balasku sambil menyodorkan selembar formulir yang ku ambil tadi. “Aku harus pulang hari ini. “
“kenapa? Ibu sama ayah sehat kan?” tanyanya. “atau aku bayarin aja sekalian” Seketika itu aku muram. Dan dia mengamati perubahanku itu. “ada apa sayang?”kata-katanya lembut. Hingga aku menceritakan yang terjadi padanya.
“nilai IPS ku jatuh banget, Han. Dan IPKku gak nyampe tiga koma. Aku tahu kalo bakal gini, tapi aku gak nyangka bakal seburuk ini.gara-gara satu mata kuliah yang dapet BC” Aku menundukkan wajahku. “ gimana aku harus bilang sama ayah dan ibu? Pasti mereka kecewa. Makanya aku mau pulang sekarang”
“aku tahu kamu pasti nyesel dengan keputusan yang kamu ambil. Tapi inilah yang terjadi. Mau gak mau kamu harus bisa terima. Sekali kali dapet nilai jelek gak papa kan?” candanya yang membuyarkan wajah muramku hingga aku menyunggingkan senyumanku padanya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum.
Dan kemudian kita berjalan menuju ATM untuk ambil uang. “untung beasiswaku udah cair, jadi aku bisa ambil duit. hehe”
“gak dikirimi ibu? Jadi kamu pake uang tabunganmu? Pasti ibu bangga sama kamu.” Timpal Farhan.
“tapi aku juga buat ibu kecewa. iya kan?” sambungku. Tapi dia segera membuatku tersenyum lagi dengan leluconnya.
“ kalo gitu telepon ibu aja. Kalo kamu pulang, kamu pasti akan ngerasa bersalah terus. Aku yakin ibu bisa memaklumi. Nih” katanya segera sambil memberikan HPnya padaku.
Aku ceritakan semuanya sama ibu lewat telpon. Ibu dengan ucapan bijaknya, telah membuka diriku. Aku telah menganggap TAku sebagai beban. Aku terlalu menggebu untuk mendapatkan yang terbaik. Tanpa sadar aku terlalu sombong untuk membuat yang lain menyanjungku. Dan yang pasti aku kurang beribadah pada Tuhan. Pada Allah.
Aku telah bermimpi terlalu tinggi yang membuatku lupa akan daratanku. Begitu kata ibu. Tapi bukankah mimpi yang membuat seseorang bisa bertahan? Hingga seseorang bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi kata ibu lagi, “kau harus ingat bahwa ada Allah yang menggenggam semuanya, memegang hidupmu, mengatur langkahmu. Dan kau tidak bisa berbuat apa-apa jika Allah merubahnya seketika.” Ya, mungkin aku terlalu menginginkan diriku menjadi sempurna tanpa melihat ada yang lebih sempurna. Maha Sempurna.
Aku hanya termenung saat memutuskan hubungan teleponku dengan ibu di seberang sana. “terima kasih Han. Antar aku pulang ke kos ya. Aku capek. Gak papa kan?” Farhan hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Sepanjang perjalanan, aku hanya diam dan Farhan tidak mau mengajakku bicara. Ku rasa dia tahu keadaanku. Seharusnya aku tersungkur meletakkan keningku di atas sajadah, merendahkan diriku di hadapan-Nya, dan meletakkan semuanya dihadapan-Nya untuk memberiku yang terbaik. Menangis mungkin bisa melunturkan semua dosa-dosaku, semua egoku, semua nafsuku. Tapi aku menyadari bahwa yang terpenting adalah bagaimana bangkit untuk jalan di depanku setelah ini. Tentu dengan ridho Allah dan pasti restu ayah-ibuku.
Sampai di depan kos, aku melambaikan tanganku pada Farhan dan segera membalikkan badanku menuju kamarku. Aku, Amelia Restu Ramadhan, tahu apa yang harus ku lakukan setelah ini.