Jumat, Agustus 16, 2013

meninggalkan zona nyaman dengan menikah

Meninggalkan zona kenyamanan berarti kita sudah menuju awal kesuksesan.

Begitu juga dengan menikah.

Sebelum menikah, zona nyaman kita selama ini berada di bawah asuhan orang tua. Apa yang kita lakukan masih menjadi tanggung jawab orang tua. Namun ketika menikah, semua tingkah laku kita sudah sepenuhnya kita yang akan pertanggung jawabkan. Kita lah sebagai pelaku pengambil keputusan. Tentunya dalam hal ini kita sebagai sepasang suami istri. Tidak hanya suami atau istri sendiri.

Oleh karena itu sebaiknya kita menyadari sepenuhnya arti tanggung jawab yang diawali dengan ijab kabul. Sebuah pelimpahan tanggung jawab dari orang tua kepada seorang suami. Tentunya tidak menutup pula tanggung jawab seorang istri.

Ijab kabul tidak hanya sebatas ucapan dan berlaku sebatas pesta pernikahan usai. Tetapi seumur hidup, bahkan sampai akhirat di hadapan Tuhan.

Menikah, tidak hanya antara suami dan istri. Tetapi juga antara dua keluarga besar yang nantinya akan saling bersinggungan.

Kita harus siap meninggalkan zona nyaman sebagai seorang anak, dan beralih menjadi seorang suami atau istri.

Tetapi seperti kalimat pembuka, akan ada kesuksesan setelah kita berani meninggalkan zona nyaman kita. Pasti. Yakinilah.

*balada H-14*

Senin, Juli 08, 2013

bulan yang sama


Rasanya kebahagiaanku lenyap dalam sekejap ketika kita berbeda dalam sebuah keyakinan.

Walau kita satu Tuhan,  satu Kitab suci yang disampaikan oleh Rosul yang sama, tetapi ada paham yang membuat kita beda.

Tak akan menjadi masalah bila kita hanyalah aku dan kamu, baik saat ini dan selamanya.

Namun kenyataannya saat ini aku dan kamu sedang menuju kepada penyatuan menjadi kita untuk selamanya.

Entah bagaimana jadinya nanti bila suatu saat kembali terulang situasi beda ini yang mengembalikan kita menjadi aku dan kamu.

Tak akan menjadi masalah bila aku kelak mengikutimu sebagai seorang pimpinan rumah mungil kita.

Namun kenyataannya sudah terpatri dalam benakku apa yang telah aku pahami dari orang tua dan keluarga selama ini sebelum bertemu denganmu. 

Aku sepenuhnya menyadari bahwa ini akan menjadi suatu siklus dalam hidupku bersamamu.

Tapi semesta seolah menutupinya dengan iming2 cinta dan masa depan yang begitu indah.

Aku seutuhnya berharap bahwa suatu saat kamu akan berpaham yang sama denganku.

Tapi berulang kali jua dinding harapan itu runtuh oleh kenyataan tentang pahammu yang tak sejalan.

Lalu apakah aku akan hidup dalam siklus tipu daya semesta dan reruntuhan harapanku?? 


Mungkin maksud Tuhan adalah agar aku dan kamu bisa menjadi pribadi berilmu yang ikhsan. Sepertinya pemikiran itu lebih bijak




Kata Rosul,  LA TAHZAN! 
Kata Pak Mario, hilangkan pikiran yang memberatkamu.
Kata hatiku, kapan kita dapat melihat bulan yang sama?! 



Minggu, Juni 30, 2013

lenovo



Hi Leno. Welcome to my life. Hope you can be my part of life in happines and sadness.

So many thanks to my fiancee @fajrulfalakh gave me Leno in my 26th birthday.

Hope we'll being together soon ;)

Sabtu, April 27, 2013

- KINI -

Melihat film “Perahu Kertas” di malam Minggu seperti ini bagi sebagian orang mungkin hanya sebagai hiburan. Tetapi tidak bagiku. Segalanya seperti nyata. Aku menjiwai, meresapi beberapa adegan dan pilihan katanya. Ini mungkin terkesan absurd.

Disinilah aku. Menatap sebuah layar 21 inch dalam kamar berukuran 3x4 meter. Seorang diri. Dan kamu disana. Entah bersama siapa. Tak ada kabar.

Mungkin ada yang salah dengan sinyal operatorku. Cepat-cepat aku me-nonaktifkan telepon genggamku, dan sedetik kemudian mencoba mengkoneksikan kembali.

It’s connecting…

We are connected, I think. Or just I am, not us.

Kalimat terakhir pada percakapan kita dalam sebuah aplikasi chat itu berasal dari aku, dua jam yang lalu. Sebentar-sebentar aku melirik posisimu yang mungkin sedang typing, atau sesekali memastikan bahwa kita tersambung. Dan sekali lagi “perahu kertas” menghanyutkanku menjadi sosok Kugy.

Kabar terakhir darimu yang ku terima adalah hasil bidikan kamera temanmu yang menerjemahkan betapa bahagianya dirimu dalam suasana pegunungan yang hijau dan aliran air terjun di kakimu.

Indah. Tetapi tak seindah isi otakku yang bergumam sendiri, ‘siapa yang mengambil gambarmu tadi? Seorang teman wanitamu?’

…Bila kau dengan yang lain sesungguhnya ku tak rela…

Aku menyadari sepenuhnya, bahwa hidup membujang di sebuah kota megapolitan, agak nyeleneh bila hanya menghabiskan malam Minggu sendirian. Dan aku memaklumi bila memang kamu menghibur diri dari segudang kerja lembur di weekdays dengan bersama teman-temanmu, pria ataupun wanita.

Tetapi sungguh aku tetap tidak bisa menghindari bayang-bayang dirimu bersamanya yang pernah singgah di hidupmu. Sekalipun kau tidak melakukannya atau mungkin tidak berterus terang padaku tentang itu.

Satu kota, satu apartement, satu hobi, dan satu atau dua kesamaan lainnya.

…Dan tak seindah cinta yang lalu, yang jalan dan jalin tanpa restu
Ku akhiri namun tak berakhir, ku hindari, hati tak ingin terpisah…

Status ter-update kini sebuah artikel online, seperti sengaja dikirimkan oleh Tuhan untukku.

“Sudah yakin mau menikah? Pastikan Anda berdua bisa saling berbicara terbuka tentang apa saja.”

Aku meluncur ke situs itu, membaca, dan mencermati setiap kalimat tips di dalamnya. Mencerminkan pada diriku. Malu. Hampir sebagiannya mengarahkanku pada kesimpulan “aku belum yakin untuk menikah”.

Waktu berlalu. Perahu kertas sudah lama hanyut dalam imajinasiku. Dan setan kecil di sebelah mengarahkan jari-jari pada layar smartphoneku untuk menuju timeline pribadimu. Tetapi nihil. Gemerlap megapolitan (atau teman wanitamu) telah menghapus diriku dari pikiranmu.

…Mungkin salah diri ini memikirkanmu, Aku kini telah berdua…

Aku terlelap dalam kehampaan tentangmu.

Selasa, Maret 19, 2013

Sehari Setelah

Sehari setelah kamu pergi, aku hidup bagai zombie.
Mataku sembab.
Menangis tiap kali ku ingat kamu.
Pandanganku kosong.
Bayanganmu masih memenuhi rongga kepalaku.
Pikiranku tak fokus.
Membuka tutup botol yang seharsunya memutar
aku lakukan dengan menariknya.
Jalanku linglung.
Hampir saja aku menabrak tukang becak dari arah berlawanan.

Sehari setelah kamu pergi, aku merasa terasing,
Saat lain tertawa, aku sedu sedan.
Saat semua berdebat, aku terdiam.
Saat mereka berdua, aku sendiri.
Saat dunia terang benderang, hatiku temaram.

Sehari setelah aku hidup bagai zombie dan terasing,
aku mencoba untuk bangkit meski sakit.
ku berusaha tuk bergerak walau merangkak.
dan melanjutkan hidup dengan rindu yang meletup-letup.

Minggu, Februari 24, 2013

Abu-abu

Aku senang abu-abu. Bukan putih, pun hitam. Sebab putih terlalu terang, dan hitam terlalu gelap.

Seperti titik-titik air yang menggantung pada langit. Yang dalam detik berikutnya terjun bebas menemui bumi. Sehingga aroma khas pertemuan air dan tanah menjadi sebuah euforia. Melambungkan romantisme. Menerbangkan butiran-butiran rindu. Ah, rindu yang mencandu.

Apa kabar dirimu? Samakah warna langitmu di sana? Mungkinkah euforia itu juga hadir di tempatmu? Sebuah romantisme yang menghanyutkan pikiranmu tentangku? Sudahkah uap rindu yang ku terbangkan sampai pada titik embun di atas tanaman sekitarmu? Atau mungkin titik embun yang hadir pada kaca mobilmu? Sebab aku tahu, tak ada lagi embun murni di kotamu.

Kebanyakan orang menganggap abu-abu itu tabu. Tak berpihak. Tak konsisten.
Bagiku tidak. Ia hidup. Seperti yin dan yang. Ia nyata. Seperti manusia pada hakekatnya. Seperti kamu. Yang sesekali "putih", sesekali "hitam". Sering tak ku mengerti. Tetapi sekali lagi, itulah hidup.

Hidup sejatinya penantian. Menanti untuk menemui kembali sang Khalik. Yang dicinta. Hingga melakukan apapun untuk yang dicinta. Termasuk kamu. Yang masih tetap ku nanti di ujung cerita kita. Telah ku lakukan apapun untuk menantimu menjadi sosok yang melabuhkan hatinya padaku. Bukan yang telah dipilih olehku. Apa mungkin?

Perjalanan hati itu bukannya tanpa resiko. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Tetapi aku telah menetapkan hatiku untuk ambil resiko. Bukankah hidup selalu ada resiko sekecil apapun? Dan kamu adalah resiko hidupku yang terbesar. Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Walaupun, sekali lagi aku berkata, kamu abu-abu.

Selasa, Oktober 23, 2012

A Thousand Years


  • Heart beats fastColors and promisesHow to be braveHow can I love when I'm afraidTo fallBut watching you stand aloneAll of my doubtSuddenly goes away somehow
    One step closer
    (Chorus)I have died everydaywaiting for youDarlin' don't be afraidI have loved you for aThousand yearsI'll love you for aThousand more
    Time stands stillbeauty in all she isI will be braveI will not let anythingTake awayWhat's standing in front of meEvery breath,Every hour has come to this
    One step closer
    (Chorus)I have died everydayWaiting for youDarlin' don't be afraidI have loved you for aThousand yearsI'll love you for aThousand more
    And all along I believedI would find youTime has broughtYour heart to meI have loved you for aThousand yearsI'll love you for aThousand more
    One step closerOne step closer
    (Chorus)I have died everydayWaiting for youDarlin' don't be afraid,I have loved you for aThousand yearsI'll love you for aThousand more
    And all along I believedI would find youTime has broughtYour heart to meI have loved you for aThousand yearsI'll love you for aThousand more

Senin, Mei 21, 2012

what a yesterday!

What a yesterday,
Now i'm stuck on you,
always get you in my mind,
and really wanna get you in a reality,
to hug & protect me,
to kiss & love me,
to be my leader,
to be my man.

love you my man @fajrulfalakh :*

Sabtu, April 28, 2012

Empat Belas Maretku, Dua Puluh Delapan Jam Sehari.

Sejatinya hidup adalah penantian sebuah antrian panjang, dimana terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dua belas jam yang lalu, aku tergopoh-gopoh bangun dari tempat tidur. Dengan segala daya upaya aku mencoba melewati kantuk, menembus air dingin kamar mandi, melewati hawa pagi buta, menuju bandara. Aku masih di Indonesia.

Saat ini pukul 17.00 wib. Sebuah pesawat besar dua tingkat membawaku pergi. Jauh. Melewati selat Sunda, melintasi pulau Sumatra. Sebuah perjalanan ke barat. Menjauhi tanah kelahiran, mendekati tanah yang suci.

Pukul 18.00 wib. Makananku sudah tersaji di atas meja lipat. Spageti lauk ikan, puding ice cream, roti dengan mentega & mayonaise, dan salad sayur yang bagiku lebih pantas disebut acar sayuran. Baru saja aku berucap dalam hati, aku ingin mie dengan ikan. Dan semenit kemudian, pramusaji menghidangkannya padaku. Subhanallah.

Dari tadi yang dapat tertangkap oleh kedua mataku hanyalah gumpalan awan & sinar matahari senja pukul tiga sore. Bukan pukul tujuh malam seperti yang diinformasikan oleh jam tanganku saat ini. Di samping tempat dudukku sudah terdapat satu kantong plastik berlogo Carefour berisi puding ice cream, dua buah roti milikku dan ibu serta pisau & garpu plastik sisa makan malam ( sore waktu setempat). Biasa, Indonesia.
Hei sekarang bukan lagi di Indonesia. Mungkin India, atau Pakistan. Dan aku mulai memamah biak puding ice cream ku.

Tepat pukul 12 malam wib aku terkejut. Bukan karena ada cinderlla yang kembali berubah menjadi upik abu, tapi ini saatnya makan malam (lagi). Ya, makan malam waktu arab. Menunya juga gak jauh beda dengan makan malam wib sebelumnya. Dan segera makananku kembali masuk kantong plastik sebelum pramugari melewatiku.

Empat belas maretku sudah tidak lagi 24 jam,tapi menjadi 28 jam. Begitupun makananku, menjadi 4x dalam sehari. Berkah perjalanan menuju ke barat. Alhamdulillah.

Jumat, Maret 02, 2012

Maafkan - d'bagindas

Maafkan aku menduakanmu.
Mencintai dia di belakang kamu,kamu.
Salahkah semua tingkahku
Yang keterlaluan menyakiti kamu,kamu.

Ku tak bisa menahan rasaku.
Saat kau jauh dariku.
Tak bisa ku hidup tanpa cinta,cinta.

Maafkanlah ku melukis luka
Membuatmu bersedih.
Mengundang air mata.
Cinta tak mengapa kau marah.
Tapi satu ku pinta.
Jangan kau usaikan kita.

Maafkan aku.
Maafkan aku.

Minggu, Januari 08, 2012

ikhlasku

Seorang anak kecil sedang asyik bermain di jok belakang mobil. Wajahnya menghadap arah belakang. Tak peduli sorot lampu dari mobilku yang mengenai wajah mungilnya. Imajinasi telah menguasai segala tindakannya untuk bermain sesuka hati. Sementara sang ibu masih konsentrasi mengendarai mobil di tengah kemacetan sore itu.

Persis dengan diriku beberapa tahun lalu bersama Bagas, bocah usia 3,5 tahun buah hatiku dengan Mas Dhana. Dan kini semua musnah. Bagas tlah pergi, seiring perceraianku.

Semua terjadi begitu saja dan pengadilan memenangkan Mas Dhana untuk mengasuh Bagas. Alasannya simpel, karena aku hidup seorang diri di kota pahlawan ini. Sungguh tak masuk akal. Atau memang hanya akal-akalan ibu mertuaku. Mantan ibu mertua lebih tepatnya. Sementara aku ibunya Bagas.

Mereka bilang,aku bisa menjenguknya tiap minggu. Tapi kenyataannya tidak. Selalu saja ada alasan mereka yang membuatku tidak bisa melihat wajah mungil anakku. Entah sedang dibawa ke rumah saudara, ikut arisan keluarga, atau sekedar jalan-jalan ke mall dengan neneknya.

Satu tahun aku bertahan dengan kondisi terus menerus mencoba menemui Bagas di akhir pekan. Segala upaya telah ku lakukan. Sampai aku tak punya waktu untuk mengurus diri. Pekerjaanku berantakan. Dan lihat tampangku kini, kuyu tak ada gairah. Nasihat kawan dekat hanya sebatas angin lalu. Semua ku lakukan sebagai rutinitas belaka. Cukup. Kini ku relakan Bagas dengan keluarga barunya. Ibu tirinya. Bukan aku,ibu kandungnya.

Kembali ku tatap jalanan malam itu yang penuh gemerlap lampu. Hingga lampu merah di sebuah perempatan jalan protokol. Menyembul kepala anak perempuan berpotongan rambut mirip Dora di sebelahku. Membawa di pundaknya banyak bungkusan kerupuk putih. Hampir-hampir wajah manisnya tertutup.
Diam tanpa kata, ia menatapku. Tatapannya berkata, 'belilah satu bungkus kerupuk ini, Bu'. Aku tak tega untuk memberinya lambaian tangan, ku turunkan kaca samping.

"Berapaan kerupuknya?"

Tangan mungilnya mengacungkan jari telunjuk & jari tengahnya. Ku berikan selembar dua puluh ribuan, "saya ambil tiga saja, kembaliannya buat kamu." Senyumnya merekah seiring diberikan tiga bungkus kerupuk kepadaku.

"Ter.ma.ka.ih", katanya terbata.
***
Aku menuang air panas pada secangkir teh seduh. Sejak pertemuan dengan anak perempuan potongan dora yang menjual kerupuk itu, aku berbisik lirih, "mungkin lebih baik begini."

Bagas tidak denganku, agar dia tak kesepian, dan punya masa depan yang lebih baik. Sementara aku, harus bisa menatap masa depan dan menjalankan kehidupanku. Tanpa Bagas.

Minggu, Desember 18, 2011

satu paket

Dalam keadaan bimbangku denganmu.
Kata-kataku habis dalam sekejap.
Menjadi tak konvergen seluruh pikiranku.
Partikel-partikelnya berjejalan dalam tempurung kepalaku.
(masih) bolehkah aku menyapamu?

Kita mulai renggang.
Sejak malam itu.
Saat ku torehkan semua pikiranku dalam coretan tinta bolpen di kedua telapak tanganku.
Tak berbentuk.
Tak bermakna.

Dan ketika aku menemukan secuil rindu padamu, aku sadar.
Sepenuhnya mengerti.
Semua salahku.
Selalu.
Sehingga kau pun menghindar.
Seakan aku genangan air hujan di pinggir jalan.

Kapan kita bagai kucing & anjing?
Kapan kita juga berperan sebagai romeo & juliet?
Atau beralih profesi menjadi sahabat karib?
Komplit satu paket.
Berantem.
Baikan.
Romantis.

Sabtu, Desember 10, 2011

** Berkilaulah **

Dalamnya hati siapa yang tahu.
Bahagiakah atau terbelenggu.
Lupakan duka satu per satu.
Percayakan diri dalam waktu, dan slalu,

Berkilaulah tersenyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah bersyukurlah, semua pasti kan indah.

Cobaan slalu datang dan pergi.
Memberi ketegaran di diri.
Jangan ternoda hati yang suci.
Berdoalah dan tanpa berhenti, nanti,

Berkilaulah dan senyumlah, sambut pagi yang cerah
Berkilaulah jangan gundah, hidup kan smakin indah.

Berkilaulah dan senyumlah, sambut hidup yang indah.
Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.

Hidup kan smakin indah..

Hidup kan smakin indah..

Hidup kan smakin indah..

Berkilaulah percayalah, hidup kan smakin indah.
;)

Jumat, November 11, 2011

sepuluh november

Jika waktu bisa berputar kembali ke masa silam untuk tanggal 10 November, beruntungnya aku. Merasakan hal indah bersamamu waktu itu, juga ingin ku perbaiki hal buruk yang terjadi antara kita.

2007.
Aku menantimu menyatakannya. Ku kirim puisi cinta, perhatian, dan hampir sebagian waktuku untuk kamu. Waktu itu, aku ingin kamu takluk dan kita punya sebuah hubungan.
Untuk pertama kali kamu ke rumah, mengajakku pergi, dan kamu menyatakannya. Yes!
Lalu mendadak ada kupu-kupu muncul dalam perutku. Aku menjadi ragu. Ku abaikan pernyataan dan pertanyaanmu. Hingga tiga bulan kemudian, kita jadian.

2008.
Berjalan setahun aku dan kamu, dengan ritme putus nyambungnya. Sebuah ruangan lantai lima perpustakaan kampus, lengkap dengan koleksi buku, meja, kursi dan rak menjadi saksi bisu.
Setangkai mawar merah muda dengan bunga-bunga kecil yang terikat menjadi satu disertai pita warna merah. Kamu berikan padaku. Hati berbunga-bunga. Senyumku tak mau lepas dari wajahku. Takut akan layu, aku menyimpan gambarnya melalui kamera. Juga di hatiku.

2009.
Sebelum November melewati hari kesepuluhnya, aku dan kamu sudah tak bersama. Hampa. Kita benar-benar tak berada di jalan yang sama. Aku masih bisa melihatmu, dan kamu masih berusaha mengejarku.
Tapi takdir mengharuskan kita berbeda. Aku dengan keegoisanku bersama dengan orang lain. Ya aku yang salah. Seluruh dunia seperti menuduhku. Semua lagu sedih seperti mengejekku.

2010.
Secara tak sengaja kita bertemu kembali, mencoba untuk memulai dari awal. Berteman. Lalu berbagi tawa, tangia, dan masa lampau.
Untuk sesaat aku merasakan kembalinya kepingan waktu yng pernah kita lalui. Tetapi kita masih pada jalam sejajar yang tak satu jalan. Membiarkan momen-momen indah terlewati begitu saja, tanpa ikatan. Hingga suatu saat aku membiarkanmu menyentuh dan menggenggam tangaku. Erat.

2011.
Sepuluh November baru saja usai. Pengembaraanku terhenti setelah kamu menyatakan apa yang aku harap. Tak ada bunga mawar merah muda, tak ada momen indah tanpa ikatan, terpisah jarak dan waktu, tetapi aku merasakan kupu-kupu hadir dalam perutku, dan kita mash memliki rasa yang sama.

Selamat tanggal Sepuluh November, wahai kamu :)

Sabtu, Oktober 29, 2011

Sebuah sorE

Hampir semua orang suka hujan. Termasuk kamu, dan aku. Seperti sore itu, di pojok lorong kantor.

Sebuah jendela kaca menjadi latarnya. Semua menjadi tenang di sana. Tak ada alunan mesin printer, ketikan keyboard dering telepon, derap langkah kaki bersepatu, pun suara orang-orang berdiskusi. Sebuah gambaran sore yang kamu nantikan.

Aku tahu kamu sedang di sana. Seperti sebelumnya. Dan aku menyengaja pergi dari ruang kerjaku untuk menjumpaimu. Memberimu secangkir teh hangat yang masih ada kepulan asap di atasnya. Mengobrol santai, tawa-tawa renyah, sambil berdiri menatap jalanan yang basah.

Sudah beberapa kali kita seperti ini di akhir bulan. Dari yang hanya sekedar bertegur sapa, menghidangkan teh hangat dengan dua sendok gula, sampai akhirnya aku memberanikan diri menemanimu barang semenit hingga kamu habiskan teh buatanku. Dan kita pun bersentuhan.

Berdesir hatiku saat kau menepuk pundakku untuk yang pertama kalinya. Namun sore ini, kamu tiba-tiba menggelitik. Lalu tak tahan aku menerimanya, hingga hampir aku terjungkal ke belakang. Dan kamu dengan sigap menarik pinggangku, membawaku menuju dekapanmu yang hangat.

Tatapanmu menyihirku menjadi seorang cinderella sebelum pukul dua belas malam. Membinasakan jati diriku yang sebenarnya, membawaku menaiki level yang sama denganmu.

Kamu dan aku saling bertatapan, menyentuh ujung hidung, terbuai dengan alunan rintik hujan di balik jendela. Tak ada keraguan bagimu untuk mengecup lembut permukaan bibirku. Semakin dalam kamu memandangku, semakin manis kecupanmu. Tak kuasa, ku tutup mataku, membiarkan lengan kananmu melingkar lebih erat di pinggangku sementara tangan kirimu masih membawa secangkir teh yang sudah mendingin.

Aku menghentikan lumatan bibirmu, membuka mataku, mengembalikan posisiku. Membiarkanmu meneguk habis teh, lalu pergi membawa cangkir kosong itu. Juga hatiku yang kini penuh gejolak.

Tak ada yang perlu disalahkan. Aku hanya sebuah waktu penghibur penatmu. Datang di saat kamu butuh kawan. Berbagi semburat jingga, rintik hujan, jalanan basah, juga kepulan teh hangat. Itu saja. Aku dan kamu tak akan pernah bisa menjadi kita. Selamanya.

Senin, Juli 11, 2011

ku temukan penggantinya

sebuah kisah tertulis indah di masa lalu
tak teraba oleh hati siapa pun
hingga kau hadir dengan segala kelemahanu
cacat hidupmu menyempurnakanku

kesakitanku bertambah pahit
ketika harus aku akui
aku menahan rasa cintaku untukmu
namun kau tetap ada

kau hadir dalam bayangan yang tak pernah ku anggap
kau ada di dalam bayangan semu
kau merindu dan membuatku jatuh kepadamu
kau menyayangku dan buatku berkata
ku temukan penggantinya

detiK Keegoisanku

Menyengaja mengetik sebuah nama lengkap pada sebuah search engine terkenal adalah wujud ketidakjelasan pikiranku malam itu.
dua detik kemudian, seluruh hasil muncul pada layar.
mayoritas menggambarkan kegiatan lawas sang pemilik nama, keikutsertaannya pada situs jejaring sosial, dan...

satu link berjudul 'BAB I' berbentuk file pdf. klik

tiga halaman kata pengantar & ucapan terimakasih sebuah laporan tugas akhir seseorang.

ku baca sepintas, dan ku temukan sebuah nama.
sebuah nama lain yang ku kenal, dua baris di bawah nama yang ku ketik sebelumnya.

...

namanya berdiri sendiri, dengan untaian kata rasa terimakasih dari sang penulis.
bukan nama lengkap yang ku ketik. bukan.

...

bukan salah sang penulis juga. tapi takdir.
dan sekelebat bayangan masa lalu kembali hadir dalam ingatanku.
masa itu. mercusuar. rasa itu.
cemburu itu.

lalu silih berganti sosok yang hadir dalam hidupku.
dan detik ini. detik ketidakjelasanku. detik keegoisanku.

Minggu, April 24, 2011

R4Ft1n9 @OBECH pacet

Akhirnya, saya ikutan rafting. ya meskipun dengan track cuma 2 km dan gak mendayung. but it's fun!

Itu terjadi tanggal 9 April lalu sama rekan kantor Doc Check Permata, di Obech Pacet. Berangkat dari kantor jam 6, tapi karena tuh rute perjalanan ngelewatin daerah rumah yang ada di perbatasan antar kota Surabaya dan Sidoarjo, jadilah saya menanti di persimpangan jalan itu *beuh*.

and, here we go!

pas awal nyampe TKP alias tempat kejadian peraftingan, sempet ngerasa gemana geto, takut hanyut, nyemplung, ketimpa batu, dan yang lebih serem kalo tiba-tiba aja tersesat. --"

menuju awal meluncur untuk rafting, kita naek mobil bak terbuka ke daerah yang lebih tinggi. yah, diangkut seperti hewan kurban gitu. hehe.

nyampe tempatnya, kita masih harus menyusuri jalan setapak kayak pendakian gitu. seru deh. jadi inget reality show "Aku ingin menjadi"

setelah berlelah-lelah naik, turun, lewat pematang sawah, semak belukar, akhirnya keliatan deh aliran sungainya. segar banget ngeliatnya.

pas sudah di perahu karetnya, adrenalin mulai di uji. gerakkan perahunya kedepan!
kalo ada batu sebelah kiri, pindah ke kanan!
kalo ada batu sebelah kanan, pindah kiri!
kalo ada batu di didepan, pindah ke belakang!
kalo aliran deras banget, BOOM! artinya kita jongkok di perahu.

semua pakaian basah! kotor! untung aja ga sampe hanyut.


*tereak paleng kenceng walo ga ada arus & batu*

selese rafting, kita istirahat bentar trus lanjut outbound. kecil sih, tapi cukup buat saya bimbang untuk ikutan apa gak. tapi mau kapan lagi bisa ngerasain flying fox, permainan yang saya impikan dari dulu.


* gaya gukguk *

setelah mengamati kawan sejawat yang berani lebih dulu, akhirnya, saya naik. melewati sebilah bambu *bukan bambu gila*, lalu seutas tali, lalu dua bilah papan yang diikat dengan tali, pelan tapi pasti saya melakukan outbound ini. pasti bisa!
dan terakhir flying fox. wui.... meluncurnya nyeremin. so, aku tereak sekenceng-kencengnya dan disoraki ama bapak-bapak peserta rafting laen. huhu..

NgaCo paGi buTa

Pertanyaan yang wajib didengar ketika kita kumpul dengan kawan sejawat adalah :
1. Sekarang dimana? ya di sini, di hadapan kamu, *pertanyaan aneh
2. Gak pengen S2? bagi saya pribadi, ini adalah pertanyaan tersulit karena antara kepengen dan udah males belajar.
3. Kapan nikah? ow, saya senang sekali kalo ada kawan yang tanya ini karena jawabannya gampang. May tahun depan. May be yes may be no. *sekaligus ngenes*

but WHY? selalu lingkup itu yang berputar dari waktu ke waktu. gak kreatip.

ya, tapi that's a life. memang perputarannya sekitar itu. lulus sekolah. cari kerja. kawin.
*ah kawin*

ya. bicara masalah kawin. saya merasa dilematis akan hal ini. hmm. berlebihan mungkin. tapi begitulah saya. kesenggol dikit, langsung dilematis.
oke. sudah mulai ga bener.

jadi gini. kawan sejawat saya toh bukan hanya kawan kuliah, kawan kecil, atau kawan puber saja. dan dari kesemua pergaulan itu, masing-masing punya ciri khas yang dibicarakan, aktivitas dan perilaku saya di dalamnya.

ketika saya berkumpul dengan kawan kuliah saya, yang dibicarakan kalo gak lowongan *udah hampir 2 tahun lulus masih aja ngomongin lowongan :D* ato pernikahan *who's next*
tapi ketika saya di dalam lingkaran kawan kecil saya, yang dibahas kalo gak kerjaan, gosip kawan sejawat lainnya, ato 'HOT' news *bukan pernikahan tapi perkawinan*

fine. benang merahnya adalah kita memang sudah dewasa, so gapapa *haduh apa sih*

gak gitu. maksud saya, kawan kuliah saya sudah banyak yang nikah, sementara kawan kecil saya sudah banyak tau kawin.
bukan. bukan. maksud saya membahas yang begitu lah.
jadi kan saya dilematis *lebay*

sebenernya saya masih belum bisa sreg dengan pembahasan saya di atas.
oke, then.
ketika saya dilingkungan kawan-kawan yang sudah banyak pada nikah, saya merasa owh, kenapa sih mereka cepat sekali nikah? apa ya yang ada di pikiran mereka dengan memutuskan : oke, yuk nikah.
sementara saya, masih mikir ingin ini, ingin itu.
nah, ketika sekumpulan lainnya yang memang tidak terlalu membicarakan pernikahan dan segala susul menyusulnya, saya merasa owkeh lets have fun! sepertinya segala sesuatu tentang nikah = ntar dulu. masa bodoh siapa yang nikah duluan diatara kita. sampe kita-kita pada mikir, apa ada yang salah dengan kita ya?

jadi, intinya kapan saya nikah? *ngaco*

Ku Menunggu

Ku menunggu,
ku menunggu kau putus dengan kekasihmu
tak akan ku ganggu kau dengan kekasihmu
ku kan slalu di sini untuk menunggumu

cintaiku, ku berharap kau kelak kan cintai aku
saat kau telah tak berama kekasihmu
ku lakukan agar kau cntaiku

haruskah ku bilang cinta
hati senang, namun bimbang
ada cemburu juga rindu
ku tetap menunggu

haruskah ku bilang cinta
hati senang, namun bimbang
dan kau sudah ada yang punya
ku tetap menunggu

datang padaku,
ku tau kelak kau kan datang kepadaku
saat kau sadar betapa ku cintaimu
ku kan slalu setia tuk menunggumu
na..na..na..na..na..na..na..

:)