Minggu, Maret 21, 2010

after chatting

lupa belum bilang, terima kasih :)
terima kasih telah menjadi kawan kelelawar saya
juga guru kehidupan saya
mengajarkan banyak hal yang belum saya tahu
membuat saya merasa hidup itu terlalu indah untuk ditangisi
mengubah pola pikir saya dari kata ‘mengapa’ menjadi ‘inilah yang terbaik’
dan yang pasti, membuka mata hati saya
bahwa kamu tidak seperti apa yang tampak pada sosokmu
tidak terduga dengan sikapmu yang cuek dan slenge’an
ternyata pribadimu lebih besar dari tubuh cungkringmu
maaf kalau saya tidak bisa membalas rasa milikmu
tapi saya selalu menghadirkan wujudmu di sela-sela kepingan hidup saya
malam ini saya mengalami rollercoster rasa, dan ternyata itu dari kamu
sekali lagi terima kasih.
:)

saya rindu dengan awal pertemuan itu
lagu lucky – Jason mraz pengantar pertemuan itu
tatapan siang itu (-no words-)
gelak tawa itu
permainan gitar itu
bahasa jawa yang medok itu
sepatu kets dan kupluk khas itu
saya rindu kamu :)
saya tulis ini dengan alunan Aero Smith – I don’t wanna miss a thing
untuk seseorang berinisial SLW :)

Minggu, Februari 21, 2010

*??!?*

Sudah 4 hari Firly berkutat dengan kata-kata dari Ahmad melalui sms. Semua karena telepon panjang suatu malam. Sebuah malam minggu. Ngobrol, bercanda, sempat putus koneksi karena lowbatt, lalu nyambung lagi, ngobrol lagi, putus lagi, bercanda lagi, sampai akhirnya selesai karena sudah tak ada lagi bahan obrolan antara mereka.

Kapan terakhir kali aku dapat telepon dari seorang cowok sepanjang itu?? batin Firly.

Malam minggu berikutnya, Firly berharap Ahmad meneleponnya kembali. Dan sudah dipersiapkannya baterai HPnya yang full. Tapi nihil. Tak ada nama Ahmad yang muncul di layarnya.

Kenapa aku rindu telepon panjang itu?? batin Firly.

Empat hari yang lalu, tiba-tiba Ahmad menanyakan janji nonton bersama pada Firly. Setelah beberapa kali tawar menawar melalui sms, akhirnya mereka sepakat bertemu di akhir pekan.

Berdua?? Aku rasa aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama 4 tahun lalu saat aku untuk pertama kalinya jalan berdua saja dengan seorang lelaki. dan aku berbohong pada kedua orang tuaku. cukup itu saja pikir Firly.

Firly mencoba meloby beberapa teman mereka untuk bergabung . Dan akhirnya 3 pasang laki dan wanita sepakat bertemu di bioskop Sabtu depan.

Tak ada yang istimewa dari acara nonton bersama itu. Tak pula hati Firly terhadap Ahmad. Tapi tiba-tiba saja Ahmad mengajak Firly makan di restoran bernuansa cozy setelah mereka berenam berpisah. Hanya berdua.

Ada apa ini?? Mengapa harus restoran ini?? Ah jadi ingat 4 tahun lalu. Peristiwa pembohongan besar-besaran terhadap orang tuaku. Berlebihankah aku menyebutnya seperti itu?? tanya Firly dalam hati.

Mereka duduk berhadapan. Dan Firly mulai merasa tak jenak ketika tatapan mereka bertemu. Diambilnya HP, dan mulai menyibukkan diri dengan pura-pura melihat inbox. Sementara Ahmad membuka pembicaraan tentang skripsinya yang baru saja berakhir. Tak ada obrolan yang spesial hingga makanan masing-masing dihidangkan.

Kenapa ada rindu yang tiba-tiba merembes dalam ruang hatiku ketika melihat Ahmad di hadapanku?? Rindu pada sosok lelaki yang menjadi peran utama peristiwa pembohonganku 4 tahun lalu. Baunya, Senyumnya, tatapan matanya. Damn!

Di tengah pembicaraan, Firly mencoba menanyakan maksud ajakan makan sore itu pada Ahmad. Tapi yang keluar dari mulut Ahmad hanyalah lawakan garing. Tak urung, Firly pun menimpali. Dan sampai selesai makan pun, tak terjadi apa yang Firly khawatirkan.

Ahmad itu mantan kekasih sahabatku. Tak mungkin aku melukai perasaan sahabatku sendiri yang masi mencintai Ahmad mati-matian.

Sampai di rumah, Firly menerima sms dari Ahmad. 'Thx 4 today '
Dan Firly tersenyum lembut membacanya. *??!?*

Minggu, Februari 14, 2010

Harmoni Cinta - Gita Gutawa



Ada yang bergerak di dalam dadaku ini
Seperti ku kenal, pernah ku rasakan
Waktu aku jatuh cinta
Waktu hatiku tertarik
Rasanya pun begini
Jatuh cinta

Apakah ini sama seperti yang dulu
Hatiku bergerak
Aku jatuh cinta
Dinding hatiku berlabuh
Harmoni cinta menyatu
Pipiku pun merona
Jatuh cinta

Harmoni cintaku kini datang
Nyanyikan suara hatiku
Berlabuh penuh cinta


Minggu, Januari 31, 2010

Hari ‘kerja’ keduaku.

Cetok!!
Suara mesin check clock terus berdentang di atas meja kerjaku.
Tiap menit berganti.
Dan aku hanya memandangi layar monitor.
Bekerja berpura-pura.
Sesekali melihat situasi yang ada di sekitar.
Lalu kembali lagi menekan keyboard membentuk kata, kalimat lalu satu paragraf penuh.

Mencoba memahami catatan yang tergelar dengan indahnya di depanku.
Pencairan fasilitas (aksep), PPKD (permohonan persetujuan kekurangan dokumen), ILoan & JHA, SHGB.
Ah, masih pukul satu lebih empat puluh lima menit.
Masih cukup lama untuk menghabiskan waktu ‘kerja’ku sampai pukul lima.
Dan berulang kali aku berlagak seperti orang yang menonton pertandingan badminton, menoleh ke kiri lalu ke kanan, memperhatikan karyawan lain yang saling berbincang santai di antara jam terakhir istirahat.

Cetok!!
Jam dua kurang lima.
Berdiri sebentar melihat kertas lusuh yang tertempel di meja sebelah yang tak berpenghuni.
Daftar nomor telepon ekstensi karyawan di ruangan ini.
Lalu kembali duduk dan merasakan HIV (hasrat ingin vivis).
Tidak ah, aku tahan saja. Dari tadi pagi aku sudah sering bolak-balik ke kamar mandi.

Dambakannya.. rindukannya.. oh sobat, maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti..
Lagu padi sedang mengalun di tengah ruang kantor ku, jadi ingat 2 hari yang lalu, sehari sebelum aku masuk kerja.
Bermain gitar kesayanganku.

Cetok!!
Ah kenapa aku lebih memperhatikan mesin check clock itu daripada mempelajari materi pekerjaanku dengan seksama.
Mataku kini tertuju pada lemper bakar yang dengan kesendiriannya sudah ada dari sebelum aku tiba dari makan bersama karyawan lain.
Sayang, aku sudah makan.
Sudah tak bernafsu lagi aku melihatnya.
Lebih tega membiarkannya kedinginan sama seperti telapak tanganku.

Giliran gelas kosong di dekat keyboardku.
Belum terisi lagi sejak tadi pagi aku meminumnya.
Tertutup dengan rapi dan beralaskan motif serupa dengan tutupnya.

Aku terus mengamati.
Ku dapati tulisan berpigura di bawah jam dinding.
Nilai-nilai budaya kerja dan perilaku karyawan.
Ah kalau boleh aku memberi saran, seharusnya aku tak perlu masuk kerja dulu saat ini.
Membiarkanku berkumpul dengan karyawan baru lainnya untuk mengikuti pelatihan atau pendidikan sebelum benar-benar masuk ruang kantor.
Bagus.. mungkin minggu depan ketika ayahku sudah mulai mengajar lagi, aku akan bawa hape smart untuk update status di twitter.

Selasa, Januari 05, 2010

Dia mencintaiku...

Sekarang aku tahu mengapa Kau buat aku begini.
Meninggikanku. Setinggi lapisan ozon terluar.
Menghempaskanku. Sedalam palung laut yang curam.

Semua Kau tujukan untukku.

Agar tiap malam ku temui Kau.
Membacakan surat cintaMu.
Bercanda dengan air mata.
Bermain teka-teki kehidupan.
Ular tangga kesabaran.

Pada akhir kencan kita.
Kau memberiku setangkai kepasrahan.
Belaian lembut ketenangan.
Sebuah kecupan mesra kesadaran tentanMu.

Allah mencintaiku..