Dunia menjadi amat mewah
dengan ribuan baja,
Jutaan beton,
dan milyaran kemunafikan.
Dunia bahagia
melihat tiap langkah manusia
Dunia terbahak-bahak
bersama kebisingan mesin
Dunia bangga
karena lampu-lampu telah membuatnya
bersinar bak sebuah bintang
tapi duniaku sedih,
terisak-isak,
tersungkur,
melihat semua jadi EDAN..
Kamis, Maret 26, 2009
Minggu, Maret 22, 2009
“Sekejap Mata”

Saat ku buka mata untuk yang pertama kalinya, ada sosok amat besar yang mengamatiku dengan wajah penuh senyuman. Dan alunan merdu di telingaku telah membawa kedamaian jiwa. Mengingatkanku akan sumpahku di hadapan yang Maha Bercahaya, lalu tiba-tiba aku merasakan cairan di sekujur tubuhku yang belum sempurna. Dan ruangan yang kutempati membuatku tak bisa bergerak dengan bebasnya ketika ku rasakan seluruh tubuhku sudah tak muat lagi di dalamnya. Aku harus keluar dari tempat itu, untuk menjemput hawa kebebasan. Tetapi udara di luar sangat dingin dan penuh dengan konsekuensi yang tak sepenuhnya seperti harapanku. Sehingga ku putuskan untuk memejamkan mataku sambil ditemani sayup-sayup alunan tadi. Aku terlelap.
Kini aku mengenal sosok yang memandangku waktu itu. Dia ayahku, dan alunan merdu itu adalah adzan. Lalu, sosok disebelahku adalah ibuku yang sedang memberikan air kehidupan yang telah menghapus dahagaku ini. Serta merta ia memelukku dengan kasih sayangnya yang lembut. Kedua orang tuaku begitu mencurahkan seluruh perhatiannya padaku. Pada pertambahan berat badanku, kesehatanku, helai rambut yang tumbuh di kepalaku, gigi mungil yang muncul dari gusiku, dan seluruh ucapan serta tingkah polaku.
Ku temui nenek dan kakekku, saudara-saudara ayah dan ibuku, anak-anak dari saudara-saudara ayah-ibuku, serta saudaraku yang lain. Begitu pula dokter dan suster yang menimbang beratku dan memberikan berbagai macam imunisasi, teman-teman satu angkatan kelahiran denganku. Rasanya semua menyenangkan berada di sini. Di dunia yang penuh realita.
Mataku kembali terbuka pagi ini. Dan aku harus mengenakan seragamku, mengikat tali sepatu yang berbulan-bulan aku mempelajarinya, membawa setumpuk buku pelajaran, dan bertemu hari serta kejadian baru di hadapanku. Memiliki teman satu bangku yang bisa ku ajak bekerja sama saat ulangan tiba, guru Matematika yang minta ampun galaknya, serta orang yang selalu menjahili dan memusuhiku.
Semakin bertambah usiaku, yang kata pak ustadz berarti pengurangan jatah hidup di dunia, semakin bertambah pengetahuanku, kemampuanku, dan tentunya pakaian yang sudah tak muat lagi. Bahkan ocehanku yang dulu membuat orang tuaku tertawa bahagia, kini justru sebaliknya. Kadang-kadang mereka menangisiku. Tapi mereka tetap sayang padaku dan terus mengucapkan namaku dalam setiap doa mereka. Aku mendengarnya suatu saat, hingga aku merasa harus berubah. Menjadi seorang yang dewasa.
Pilihan yang ku ambil untuk menjadi seorang dewasa, telah memberiku berjuta masalah yang tak henti-hentinya menimpaku. Inilah hidup, begitu kata orang bijak berkata bahwa hidup tanpa masalah sama saja mati. Dan aku menyadari inilah yang memberikan warna dalam hidupku, dan aku akan menjadi seseorang yang lebih baik ketika berhasil mengatasi masalah satu persatu.
Aku mengenal cinta. Ia yang telah membuatku salah tingkah. Mengajarkanku merasakan desir-desir saat bersentuhan dengannya. Memberikan senyuman terindahnya di setiap sudut hariku. Menginspirasikan banyak kata dalam pikiranku yang tumpah ruah dalam bentuk puisi. Dan mengantarkanku ke gerbang energi positif sehingga aku mampu melahap gelar akademisku serta pekerjaan yang ku raih. Ia pula yang memperlihatkanku akan cinta orang tuaku selama ini. Cinta tanpa henti. Cinta tanpa imbalan. Hingga saat terakhir ku pandangi wajah orang tuaku.
Ketika ku buka kembali mataku, di hadapanku duduk seorang pria yang mencintaiku. Dan dengan sorot mata yang tegas tapi memancarkan kekagumannya padaku, ia meminangku dengan mantap di depan penghulu. Seketika itu pula pipiku terasa hangat. Merasakan aliran bahagia dari ucapan suamiku. Dan mengetahui bahwa orang tuaku juga ikut tersenyum bahagia melihatku.
Tak ada yang abadi di dunia ini. Sekalipun meminta pada Yang Maha Berkuasa untuk memanjangkan usia, memberi kesehatan, dan segala kesejahteraan di dalamnya. Semua keputusan ada di tanganNya, segala yang dititahkan adalah harus tanpa bisa di tawar lagi. Aku seperti mengulang kejadian berpuluh-puluh tahun lalu saat ingin ku raup kebebasan jiwaku, dan kembali menatap Yang Maha Bercahaya.
Tapi aku harus menuntaskan kewajiban terakhirku. Memberikan kebebasan pada bayi mungilku yang telah mengajariku untuk lebih sabar. Sejak ada sesuatu yang bergejolak dan membuatku merasakan cairan hangat dan kecut dalam tenggorokanku hingga ku tumpahkan semuanya. Sejak ia hadir di dalam rahimku. Dan aku mulai membiarkan bobotku terus bertambah demi sebuah nyawa yang ingin melihat dunia.
Kini dengan tatapan dan nafasku yang terakhir, bayi mungilku telah menggantikanku meneruskan kehidupanku yang terhenti. Lalu ku pejamkan mata. Aku terlelap selamanya. Dan saat ku buka penglihatanku, sayup-sayup ku dengar alunan merdu surat Yasin dan tahlil menemani ragaku yang kaku di tengah ruangan.
Selasa, Maret 17, 2009
PILIH SAYA ! !

Ternyata gak hanya musim duren ato musim kawin yang menjamur di tengah kehidupan manusia Indonesia, tapi musim kampanye juga membuat hampir seluruh warga heboh. Kenapa aku bilang hampir seluruh? Ya karena gak semua warga Indonesia yang turut berbahagia menyambutnya. Terlebih warga yang merasa ga ada yang bisa diharapkan dari PEMILU tahun ini. Mereka menganggap semua gak akan merubah apapun. Harga-harga tetep aja mahal. Itulah makhluk halus karena lebih memilih warna putih yang notabene terkenal sebagai warna favorit dari makhluk halus ato dedemit. Peace…
Adanya perbedaan yang diterapkan pada PEMILU tahun ini membuat kondisi bangsa lebih marak. Apanya gak marak, banyak banget spanduk bergambar foto, nama, partai, dan tanda contreng. Ada yang foto dengan pose KTP, pose gingsul (gigi kuning semua muncul), pose artis, bahkan ada pula yang pose sangar. Hii ngeri..
Banyaknya modal yang dimiliki oleh sang caleg juga terlihat dari gedenya spanduk yang dipasang. Ada yang segede layar tancep, sedang-sedang aja, ato hanya segede buku tahunan anak-anak SMA.
Semua itu emang kelihatan marak, rame, tapi juga kumuh. Sori buat yang tersinggung. Tapi emang itu adalah kenyataannya. Gimana nggak kumuh, seluruh pinggir jalan terpampang foto-foto orang yang katanya bakal mengaspirasikan suara rakyat di DPR, tapi satupun kita gak kenal. Paling hanya beberapa gelintir, ato artis yang lagi pingin terjun payung ke kancah politik Indonesia. Pohon-pohon juga pada rusak semua ditempeli tulisan-tulisan “pilih saya untuk masa depan lebih maju”.
Okelah, kita harus menyadari bahwa Indoneia memang sebuah negara berkembang yang hingga usia 64 tahun masih saja terus berkembang. Walaupun wilayah kita malah semakin menyempit. Ya, aku sebagai calon peserta pemilu hanya bisa mengambil segi positif dari semua kenyataan yang ada. Anggep aja foto2 caleg itu mewarnai lingkungan kita dengan berbagai macam gaya narsisnya. Ato bendera-bendera partai yang berwarna-warni bisa membuat hidup kita lebih berwarna. Dan perbedaan cara memilih dengan mencontreng bisa membuat kita lebih dewasa. Karena gak semata-mata menyalurkan perasaan kita kalo lagi marah dengan mencoblos sekuat tenaga hingga kertas suara robek. Kita bisa lebih sabar untuk membuat tanda senyuman dalam memilih partai. Btw, kata mencontreng tuh diambil dari mana ya??
Jangan lupa untuk mencontreng ya…satu suara kamu bisa mempengaruhi semua perubahan yang ada. Tetep optimis kalo kita bakal berubah lebih baik. INDONESIA BISAAAA..
Dan yang pasti aku mau bilang, jangan lupa pilih saya sebagai orang yang paling cantik, paling imut, paling baik, paling konyol, paling narsis, ato paling kamu sayangi. Gak perlu repot-repot mencontreng mukaku, cukup berikan komentar dan ketik REG spasi IPIK spasi MANIS kirim ke 6288.haha. transfer duit juga boleh, ntar ku kasih no.rekening. Peace..
Adanya perbedaan yang diterapkan pada PEMILU tahun ini membuat kondisi bangsa lebih marak. Apanya gak marak, banyak banget spanduk bergambar foto, nama, partai, dan tanda contreng. Ada yang foto dengan pose KTP, pose gingsul (gigi kuning semua muncul), pose artis, bahkan ada pula yang pose sangar. Hii ngeri..
Banyaknya modal yang dimiliki oleh sang caleg juga terlihat dari gedenya spanduk yang dipasang. Ada yang segede layar tancep, sedang-sedang aja, ato hanya segede buku tahunan anak-anak SMA.
Semua itu emang kelihatan marak, rame, tapi juga kumuh. Sori buat yang tersinggung. Tapi emang itu adalah kenyataannya. Gimana nggak kumuh, seluruh pinggir jalan terpampang foto-foto orang yang katanya bakal mengaspirasikan suara rakyat di DPR, tapi satupun kita gak kenal. Paling hanya beberapa gelintir, ato artis yang lagi pingin terjun payung ke kancah politik Indonesia. Pohon-pohon juga pada rusak semua ditempeli tulisan-tulisan “pilih saya untuk masa depan lebih maju”.
Okelah, kita harus menyadari bahwa Indoneia memang sebuah negara berkembang yang hingga usia 64 tahun masih saja terus berkembang. Walaupun wilayah kita malah semakin menyempit. Ya, aku sebagai calon peserta pemilu hanya bisa mengambil segi positif dari semua kenyataan yang ada. Anggep aja foto2 caleg itu mewarnai lingkungan kita dengan berbagai macam gaya narsisnya. Ato bendera-bendera partai yang berwarna-warni bisa membuat hidup kita lebih berwarna. Dan perbedaan cara memilih dengan mencontreng bisa membuat kita lebih dewasa. Karena gak semata-mata menyalurkan perasaan kita kalo lagi marah dengan mencoblos sekuat tenaga hingga kertas suara robek. Kita bisa lebih sabar untuk membuat tanda senyuman dalam memilih partai. Btw, kata mencontreng tuh diambil dari mana ya??
Jangan lupa untuk mencontreng ya…satu suara kamu bisa mempengaruhi semua perubahan yang ada. Tetep optimis kalo kita bakal berubah lebih baik. INDONESIA BISAAAA..
Dan yang pasti aku mau bilang, jangan lupa pilih saya sebagai orang yang paling cantik, paling imut, paling baik, paling konyol, paling narsis, ato paling kamu sayangi. Gak perlu repot-repot mencontreng mukaku, cukup berikan komentar dan ketik REG spasi IPIK spasi MANIS kirim ke 6288.haha. transfer duit juga boleh, ntar ku kasih no.rekening. Peace..
Kamis, Maret 12, 2009
idealis vs realistis
apa si yang bisa kita bicarain tentang keduanya?
idealis..pasti sesuatu yang berasal dari pemikiran kita. dalam hal ini adalah apa yang kita inginkna sebagai tujuan hidup kita. baik dalam jangka panjang ataupun dalam jangka pendek.
biasanya dalam jangka panjang ada berupa kita mau hidp dengan bahagia. tentunya jadi dambaan semua orang kan?! kalo contoh jangka pendeknya kita ingin punya pekerjaan sesuai bidang minat kita.,
sekarang kalo sebagai mahasiswa? apa idealisnya? apa yang berhubungan dengan negara?
dari ospek maba yang dulu ku ikuti..mahasiswa itu adalah sebagai agen of change. dimana kita harus bisa membawa perubahan yang baik dan positif untuk negara kita, Indonesia.
tapi pada kenyataannya, memang sebagian bisa dibilang begitu.
sedangakan yang lain?? biasa aja. yang penting dirinya bisa dapet kerja itu saja setelah lulus.
kata orang dalam sebuah seminar kalo gak salah..
yang dimiliki mahasiswa hanyalah sebuah idealis. maka dari itu idealis tersebut harus djaga baik2 untuk mewujudkan cita2. masalah dana itu bisa diatasi. katanya begitu, seingatku. tapi kan trio kwek2 yang notabene nyanyi "katanya" udah bubar to? hehe
trus..
kalo pengalamanku sebagai mahasiswa. emang pernah kepikiran idealis itu nomor satu. tapi kita juga harus liat kenyataan yang ada.
contohnya aja. waktu ada tugas dari dosen. aku sempet mikir kalo aku harus bisa ngerjain sendiri yang otomatis aku ngerti apa yang dimaksud tugas itu.
tapi kenyataanya, temen2 yang lain pada nyontek jawaban dari semester yang lalu2. tanpa ada perubahan sedikitpun. ya paling perubahan dari namanya.
melihat hal itu, aku jadi ketinggalan donk. yang lain udah pada ngumpulin, sementara aku masih berkutat dengan pikiranku yang idealis pingin bisa. ya memang aku termasuk orang yang perfeksionis.tapi begitu masuk dalam kondisi yang demikian, ya aku jadi mikir lagi. mending aku hilangkan idealis aku untuk bisa dapet contekan dari temen2. selanjutnya aku bisa mempelajarinya sendiri. tapi lebih sering untuk gak mikir lagi tugas itu.hehe
so.. bagaimana seharusnya kita secara umum sebagai manusia dan secara khusus sebagai mahasiswa dalam menanggapi pemikiran kita dan kenyataan yang ada? apa lupakan idealis dan hadapi kenyataan sehingga kita semacam ikut arus?
atau pertahankan idealis walaupun kita sudah ketinggalan jauh?
ya mungkin salah satu pilihannya ya keduanya harus bisa jalan beriringan. semoga bisa.
dan kita harus bisa. seperti yang sering di bicarakan oleh bapak SBY kita. Indonesia BISA!!
idealis..pasti sesuatu yang berasal dari pemikiran kita. dalam hal ini adalah apa yang kita inginkna sebagai tujuan hidup kita. baik dalam jangka panjang ataupun dalam jangka pendek.
biasanya dalam jangka panjang ada berupa kita mau hidp dengan bahagia. tentunya jadi dambaan semua orang kan?! kalo contoh jangka pendeknya kita ingin punya pekerjaan sesuai bidang minat kita.,
sekarang kalo sebagai mahasiswa? apa idealisnya? apa yang berhubungan dengan negara?
dari ospek maba yang dulu ku ikuti..mahasiswa itu adalah sebagai agen of change. dimana kita harus bisa membawa perubahan yang baik dan positif untuk negara kita, Indonesia.
tapi pada kenyataannya, memang sebagian bisa dibilang begitu.
sedangakan yang lain?? biasa aja. yang penting dirinya bisa dapet kerja itu saja setelah lulus.
kata orang dalam sebuah seminar kalo gak salah..
yang dimiliki mahasiswa hanyalah sebuah idealis. maka dari itu idealis tersebut harus djaga baik2 untuk mewujudkan cita2. masalah dana itu bisa diatasi. katanya begitu, seingatku. tapi kan trio kwek2 yang notabene nyanyi "katanya" udah bubar to? hehe
trus..
kalo pengalamanku sebagai mahasiswa. emang pernah kepikiran idealis itu nomor satu. tapi kita juga harus liat kenyataan yang ada.
contohnya aja. waktu ada tugas dari dosen. aku sempet mikir kalo aku harus bisa ngerjain sendiri yang otomatis aku ngerti apa yang dimaksud tugas itu.
tapi kenyataanya, temen2 yang lain pada nyontek jawaban dari semester yang lalu2. tanpa ada perubahan sedikitpun. ya paling perubahan dari namanya.
melihat hal itu, aku jadi ketinggalan donk. yang lain udah pada ngumpulin, sementara aku masih berkutat dengan pikiranku yang idealis pingin bisa. ya memang aku termasuk orang yang perfeksionis.tapi begitu masuk dalam kondisi yang demikian, ya aku jadi mikir lagi. mending aku hilangkan idealis aku untuk bisa dapet contekan dari temen2. selanjutnya aku bisa mempelajarinya sendiri. tapi lebih sering untuk gak mikir lagi tugas itu.hehe
so.. bagaimana seharusnya kita secara umum sebagai manusia dan secara khusus sebagai mahasiswa dalam menanggapi pemikiran kita dan kenyataan yang ada? apa lupakan idealis dan hadapi kenyataan sehingga kita semacam ikut arus?
atau pertahankan idealis walaupun kita sudah ketinggalan jauh?
ya mungkin salah satu pilihannya ya keduanya harus bisa jalan beriringan. semoga bisa.
dan kita harus bisa. seperti yang sering di bicarakan oleh bapak SBY kita. Indonesia BISA!!
Rabu, Maret 11, 2009
Salam dari Tuhan
Hujan masih bersenandung dalam derasnya.
Genderang alam bertabuh.
Abdi rindu.
Rindu bagai air bah yang tumpah.
Seperti api yang membakar.
Pun matahari dalam teriknya.
Jauh di dalam palung hati.
Lirih.
Berbisik.
Dimana sang pujaan hati?
Sementara angin mendesis.
Menyampaikan salam terindah untuk abdi.
Salam dari Tuhanmu.
Genderang alam bertabuh.
Abdi rindu.
Rindu bagai air bah yang tumpah.
Seperti api yang membakar.
Pun matahari dalam teriknya.
Jauh di dalam palung hati.
Lirih.
Berbisik.
Dimana sang pujaan hati?
Sementara angin mendesis.
Menyampaikan salam terindah untuk abdi.
Salam dari Tuhanmu.
Langganan:
Postingan (Atom)